CILEGON, WILIP.ID – Sejumlah orangtua anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kota Cilegon tahun 2024 mendatangi Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cilegon, Sri Widayanti, Kamis (24/7/2025).
Mereka mempertanyakan dugaan pemotongan uang saku dan buruknya fasilitas selama masa pelatihan anak-anak mereka.
Salah satu perwakilan wali murid, Fatullah, mengungkapkan kekecewaannya terkait minimnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap para anggota Paskibra. Ia menyebut bahwa uang saku yang seharusnya sebesar Rp1,5 juta, justru diterima anak-anak hanya sebesar Rp900 ribu, dengan alasan adanya potongan pajak yang tidak jelas.
“Anak-anak kami nggak dikasih makan selama pelatihan, harus bawa bekal sendiri. Uang saku juga dipotong tanpa penjelasan yang transparan. Dibilang Rp1,5 juta, nyatanya cuma terima Rp900 ribu. Padahal anggaran di DPA nilainya miliaran,” ujar Fatullah kepada jurnalis Wilip.id.
Lebih lanjut, ia menyoroti janji pelaksanaan program wawasan kebangsaan yang tak kunjung terealisasi. Padahal, kegiatan tersebut sebelumnya dijanjikan akan digelar setelah Lebaran Idulfitri, atau setidaknya usai pengibaran bendera pada 17 Agustus tahun lalu.
“Kami tunggu sampai setelah 17 Agustus, tapi program wawasan kebangsaan itu tidak pernah dilaksanakan. Ini bentuk kelalaian dan ketidakseriusan pemerintah dalam mendidik generasi muda,” tegasnya.
Soal fasilitas karantina pun menjadi sorotan. Tahun-tahun sebelumnya, para peserta Paskibra dikarantina di Hotel The Royal, namun tahun 2024 dialihkan ke hotel bintang tiga. Padahal, menurut informasi yang diterima para orangtua, dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), hotel yang tertulis tetap The Royal.
“Kok bisa hotelnya beda? Ada apa dengan anggarannya? Anak kami sudah dikorbankan waktunya untuk negara, tapi tidak dihargai secara layak,” tambahnya.
Fatullah dan sejumlah wali murid lainnya menyatakan telah mengadu langsung kepada Wali Kota Cilegon pada Kamis (17/7/2025). Wali kota pun, menurut mereka, berjanji akan memanggil pihak terkait untuk mengklarifikasi masalah ini.
Ironisnya, anak-anak yang mengikuti kegiatan Paskibra ini bahkan harus meninggalkan proses belajar mengajar di sekolah. Sebuah pengorbanan besar yang menurut para orangtua tak sebanding dengan perlakuan yang diterima.
(Elisa/Red*)















