Yakesma Cilegon Gerakkan Solidaritas Sumatera: Donasi Mengalir, Tim Melaju Menembus Bencana

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah derasnya arus informasi dan kelelahan publik terhadap berbagai isu sosial, Yakesma memilih kembali ke akar: kemanusiaan. Bagi lembaga yang lahir dari tradisi filantropi Islam ini, membantu sesama bukan sekadar respons cepat atas bencana, melainkan bagian dari filosofi panjang tentang merawat martabat manusia.

“Kemaslahatan untuk banyak orang,” begitu kalimat yang berulang disampaikan Ketua Yakesma Kota Cilegon, Fatahilah. Di sinilah Yakesma menegaskan diri—bahwa kerja sosial bukan sekadar angka, melainkan niat dan gerak yang konsisten.

Penggalangan donasi untuk korban banjir bandang di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh sudah memasuki hari kelima sejak dibuka awal pekan ini. Selama hampir sepekan, tim Yakesma Cilegon menyisir ruang-ruang publik dan digital untuk mengajak masyarakat ikut serta. Hingga kini, akumulasi donasi yang terkumpul melalui Yakesma se-Banten, termasuk Cilegon, mencapai Rp361.508.869. Angka yang terus bergerak naik ini menjadi bukti bahwa kepedulian belum benar-benar mati.

Fatahilah menyebut Yakesma bukan sekadar lembaga amil zakat. Di balik program zakat, infak, sedekah, dan wakaf, ada upaya memperluas kolaborasi—menautkan kepedulian lintas lembaga, mulai dari sekolah, perusahaan, komunitas sosial, hingga industri.

“Yakesma mengajak semua pihak bermitra. Lembaga pendidikan, perusahaan, lembaga sosial—semua bisa terlibat. Intinya kemaslahatan untuk banyak orang,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

Kantor Unit Layanan Zakat Yakesma Cilegon yang berlokasi di Tegal Cabe, Jalan Maulana Yusuf, Citangkil, kini menjadi salah satu titik utama koordinasi donasi.

Selain respon cepat bencana, Yakesma Cilegon juga menggarap program jangka panjang. Untuk generasi muda, lembaga ini menyiapkan pendampingan usaha, terutama bagi anak-anak Cilegon yang ingin memulai atau mengembangkan bisnis kecil.

“Meskipun dana tidak banyak, kalau ada niat kita support,” kata Fatahilah.

Ibu rumah tangga pun mendapat ruang dalam program pemberdayaan, misalnya mengembangkan produk berbasis kearifan lokal.

Di bidang pendidikan, Yakesma menyediakan bantuan bagi mahasiswa kurang mampu melalui skema orang tua asuh—agar mereka tak perlu berhenti kuliah karena terbentur biaya.

Hari ini, tim Yakesma mulai bergerak menuju wilayah terdampak bencana. Perjalanan dilakukan bertahap, dengan target menjangkau titik-titik paling parah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh—bergantung situasi jalur darat.

Rincian pergerakan tim sebagai berikut:

* 03.00 WIB: Berangkat dari Cilegon menuju Pelabuhan Merak

* 11.00 WIB: Persiapan dan keberangkatan kapal ke Sumatera

* 14.00–15.00 WIB: Perkiraan tiba di Bakauheni

* 18.00 WIB: Tiba di Lampung, istirahat hingga Isya

* Setelah Isya: Melanjutkan perjalanan ke Palembang, diperkirakan tiba pagi hari

* Hari berikutnya: Perjalanan menuju Sumatera Barat, estimasi 1 hari

* Tahap lanjut: Monitoring dan penyaluran di Sumbar → Sumut → Aceh (jika jalur memungkinkan)

“Beberapa jalur masih terputus. Kalau kendaraan tidak bisa lewat, kita ganti moda transportasi lain. Yang penting bantuan sampai,” ujar Fatahilah.

Penggalangan donasi dijadwalkan berlangsung hingga dua pekan ke depan, kemungkinan berlanjut hingga awal Januari. Setiap hari, informasi penggalangan disiarkan ulang melalui berbagai kanal, berharap menggugah solidaritas warga Cilegon.

Bagi Yakesma, bencana selalu lebih dari sekadar peristiwa alam—ia adalah ujian kepedulian.

“Semaksimal mungkin kita terus menggalang dan menyalurkan donasi. Semoga membawa kebermanfaatan bagi banyak orang,” tutup Fatahilah.

Dengan ritme kerja yang terukur dan semangat kemanusiaan yang dijaga, Yakesma Cilegon mencoba memastikan satu hal: di tengah bencana yang memisahkan jarak, kepedulian tetap mampu menjembatani.

 

(Pis/Red*)