Tembok Tua Rumah Dinas Wali Kota Cilegon Roboh, DPK Ungkap Sejarah Kolonial di Baliknya

0-0x0-0-0#

CILEGON, WILIP.ID — Sebuah pagar tua di kompleks rumah dinas Wali Kota Cilegon roboh setelah diguyur hujan deras dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa itu sekilas tampak sebagai kerusakan bangunan biasa. Namun di balik tembok yang runtuh itu, tersimpan lapisan sejarah panjang yang menautkan Cilegon dengan jejak administrasi kolonial Belanda.

Pagar tersebut bukan sekadar batas fisik sebuah rumah dinas. Ia merupakan bagian dari kompleks pemerintahan kolonial yang pada masanya memiliki fungsi administratif sekaligus pengamanan wilayah perdagangan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon, Ismatullah, mengatakan kawasan rumah dinas wali kota saat ini dahulu merupakan pusat aktivitas pejabat kolonial Belanda yang mengelola wilayah strategis di pesisir Banten.

“Rumah dinas itu pada masa Belanda merupakan kediaman pejabat setingkat residen atau wakil residen yang membawahi sejumlah wilayah. Struktur pemerintahan kolonial saat itu cukup rapi,” kata Ismatullah, Senin, 9 Maret 2026.

Menurut dia, pejabat residen yang berkedudukan di Tangerang mengawasi wilayah yang cukup luas, termasuk kawasan Anyer dan jalur perdagangan pesisir Banten. Rumah dinas tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat administrasi dan pengendalian wilayah.

Dalam tata ruang kolonial, pagar bukan sekadar elemen arsitektur. Ia merupakan simbol kontrol sekaligus lapisan keamanan.

Ismatullah menjelaskan bahwa setiap rumah pejabat kolonial biasanya dilengkapi fasilitas keamanan seperti kantor polisi, ruang tahanan, hingga asrama aparat.

Hal itu berkaitan dengan kepentingan ekonomi yang dijaga ketat oleh pemerintah kolonial.

“Pada masa itu kepentingan utama Belanda adalah perdagangan. Banyak wilayah dibangun untuk mengamankan aktivitas ekonomi, terutama yang berkaitan dengan komoditas perdagangan,” ujarnya.

Perusahaan dagang Belanda yang dikenal sebagai VOC pada awalnya datang dengan motif perdagangan. Namun dalam perjalanan waktu, perusahaan tersebut berkembang menjadi kekuatan kolonial yang menguasai wilayah-wilayah strategis di Nusantara.

Karena itu, kompleks pemerintahan seperti rumah residen dibangun dengan struktur yang kokoh. Pagar yang mengelilinginya menjadi bagian dari sistem pertahanan sipil yang menjaga stabilitas administrasi dan perdagangan.

Bila ditelusuri dari masa pembangunannya, pagar tersebut diperkirakan telah berusia ratusan tahun.

Ismatullah memperkirakan struktur bangunan itu bisa saja dibangun pada periode awal abad ke-17, masa ketika pemerintahan kolonial mulai menguat di kawasan Banten.

“Kalau dibangun sekitar awal 1600-an, usianya bisa lebih dari empat abad. Itu menunjukkan kualitas konstruksi pada masa itu memang sangat kuat,” katanya.

Ia melihat adanya perubahan kondisi tanah di sekitar kompleks rumah dinas yang kemungkinan dipicu oleh proses penumpukan tanah selama ratusan tahun. Permukaan tanah di bagian dalam kawasan kini terlihat lebih tinggi dibandingkan bagian luar.

Selain itu, pertumbuhan pepohonan di sekitar pagar turut memberi tekanan pada struktur bangunan lama.

“Ada pohon-pohon besar seperti mangga yang akarnya bisa merusak bangunan. Akar pohon sering kali tidak bersahabat dengan konstruksi tua,” ujar Ismatullah.

Keruntuhan pagar itu terjadi ketika wilayah Banten dilanda hujan lebat dalam beberapa hari terakhir. Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan tanah menjadi jenuh air.

Kondisi tersebut dapat memperlemah fondasi bangunan lama yang sudah berusia ratusan tahun.

Beberapa kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi turut terdampak ketika bagian pagar runtuh.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bangunan bersejarah membutuhkan perhatian khusus, baik dalam pemeliharaan struktur maupun pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Ismatullah menuturkan bahwa pada masa lalu kawasan rumah dinas itu memiliki area yang jauh lebih luas dibandingkan sekarang.

Sebagian wilayah yang kini digunakan sebagai asrama polisi, menurut dia, dahulu masih termasuk dalam kompleks administrasi kolonial.

Di kawasan tersebut pernah berdiri fasilitas keamanan yang ditempati aparat kolonial, termasuk pasukan yang dikenal sebagai Marsose.

Pasukan ini direkrut dari berbagai wilayah Nusantara untuk menjalankan tugas pengamanan di daerah-daerah kolonial.

“Pasukan itu sengaja ditempatkan jauh dari daerah asalnya. Tujuannya agar mereka tidak memiliki kedekatan sosial dengan masyarakat setempat,” kata Ismatullah.

Strategi tersebut merupakan bagian dari cara pemerintah kolonial menjaga loyalitas aparat sekaligus memperkuat kontrol terhadap wilayah jajahan.

Keberadaan pusat administrasi kolonial di kawasan itu tidak terlepas dari posisi Banten sebagai jalur penting perdagangan rempah pada masa lampau.

Wilayah pesisir dari Anyer hingga Sumur menjadi jalur lalu lintas komoditas yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Nusantara dengan pasar internasional.

Untuk menunjang aktivitas tersebut, pemerintah kolonial membangun berbagai infrastruktur strategis.

Salah satu yang paling terkenal adalah jalur jalan raya yang menghubungkan Anyer di ujung barat Pulau Jawa dengan Panarukan di ujung timur.

Jalur tersebut menjadi tulang punggung distribusi logistik dan perdagangan pada masa kolonial.

Di tengah wajah Cilegon sebagai kota industri modern, keberadaan pagar tua itu menyimpan fragmen sejarah yang nyaris terlupakan.

Keruntuhannya bukan hanya persoalan bangunan yang rapuh, melainkan juga pengingat bahwa kota ini memiliki lapisan sejarah panjang yang membentang jauh sebelum era industri baja dan pelabuhan.

“Pagar itu mungkin terlihat sederhana,” kata Ismatullah. “Tetapi sebenarnya ia menyimpan cerita tentang bagaimana wilayah ini pernah menjadi bagian penting dari sistem pemerintahan dan perdagangan kolonial.”

Di antara tembok yang runtuh, sejarah itu seakan kembali menampakkan dirinya—mengingatkan bahwa kota modern sering berdiri di atas jejak masa lalu yang panjang.

 

(Has/Red*)