IRAN, WILIP.ID – Dua pekan berada di Iran bukan sekadar perjalanan akademik bagi Dr. Hasani Ahmad Said, M.A. Bagi dosen Ilmu Al-Qur’an UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus kader terbaik Al-Khairiyah itu, kunjungan tersebut menjelma menjadi ruang refleksi yang utuh—menggabungkan pengalaman spiritual, pengamatan ilmiah, hingga pembacaan sosial-keagamaan yang tajam.
Di tengah atmosfer peringatan Revolusi Islam Iran setiap 11 Februari, Hasani menyaksikan langsung bagaimana identitas keagamaan dan nasionalisme berpadu dalam kehidupan masyarakat. Ia tidak hanya melihat perayaan, tetapi juga merasakan denyut keseharian warga Iran yang selama ini kerap diselimuti persepsi sepihak.
Saat dikonfirmasi wilip.id, Sabtu 28 Maret 2026, Hasani menegaskan bahwa pengalaman langsung menjadi kunci untuk memahami realitas secara utuh.
“Melihat langsung jauh lebih jujur daripada sekadar mendengar narasi yang belum tentu benar,” ujarnya.

Tradisi Tilawah: Akhlak Sebagai Fondasi
Salah satu temuan paling menarik dalam kunjungan tersebut adalah kuatnya tradisi tilawah Al-Qur’an di Iran. Bagi Hasani, keberhasilan Iran melahirkan qari dan hafidz kelas dunia bukanlah sesuatu yang instan.
Ia menyoroti satu hal sederhana namun fundamental: penanaman akhlak sebelum pembelajaran Al-Qur’an dimulai.
“Setiap sesi diawali 15 menit pelajaran akhlak. Ini yang membentuk karakter para qari dan hafidz mereka,” ungkapnya.
Pendekatan ini, menurutnya, menjadi fondasi penting yang membuat tilawah tidak sekadar indah secara suara, tetapi juga bernilai secara spiritual dan moral. Tak heran jika Iran konsisten tampil dalam panggung musabaqah internasional dengan kualitas yang diakui dunia.

Meluruskan Persepsi: Tidak Ada Perbedaan Al-Qur’an
Dalam kunjungannya, Hasani juga menaruh perhatian pada isu klasik yang kerap menjadi bahan perdebatan: dugaan adanya perbedaan Al-Qur’an di kalangan Syiah.
Ia memastikan langsung melalui observasi lapangan, mulai dari membaca mushaf hingga mengunjungi percetakan Al-Qur’an di Iran.
“Hasilnya jelas, tidak ada perbedaan. Bahkan kertasnya pun bersertifikat halal, termasuk dari Indonesia,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi penegasan penting di tengah derasnya narasi yang kerap membingkai Iran dan mazhab Syiah secara negatif di sebagian kalangan.

Tradisi Hauzah: Disiplin Ilmu Tanpa Kompromi
Selain aspek Qur’ani, Hasani juga menggarisbawahi ketatnya sistem pendidikan keagamaan di Iran melalui tradisi hauzah. Model pendidikan ini, menurutnya, menempatkan keilmuan sebagai proses panjang yang tidak bisa ditempuh secara instan.
“Tidak ada istilah ustaz karbitan. Semua melalui tahapan jelas, menguasai ratusan kitab, dengan standar keilmuan yang ketat,” ujarnya.
Ia pun menyentil fenomena di Indonesia, di mana simbol keulamaan terkadang lebih menonjol dibanding kedalaman ilmu.
“Ini bukan sekadar soal penampilan, tapi tanggung jawab moral kepada umat,” katanya tajam.

Iran: Mandiri di Tengah Tekanan
Di luar ranah keagamaan, Hasani menangkap karakter kuat bangsa Iran yang tetap berdiri di tengah tekanan global. Embargo panjang tidak membuat negara itu kehilangan arah, justru memperkuat kemandirian mereka.
“Mereka menunjukkan bahwa ketaatan pada nilai agama bisa berjalan seiring dengan kemajuan,” ungkapnya.
Bagi Hasani, ini menjadi pelajaran penting bahwa identitas religius tidak harus berseberangan dengan kemajuan peradaban.

Sunni-Syiah: Isu Lama, Ancaman Baru
Bagian paling kritis dari refleksi Hasani tertuju pada relasi Sunni-Syiah yang kerap dipolitisasi. Ia menilai, narasi konflik yang terus diproduksi hanya akan melahirkan perpecahan yang berbahaya.
“Memperseterukan Sunni-Syiah adalah politik pecah belah. Jika dibiarkan, ini bisa menjadi bom waktu,” tegasnya.
Ia secara terbuka mengkritik kelompok-kelompok yang masih mengampanyekan kebencian terhadap Iran dan umat Syiah.
“Tanggapan saya, sebaiknya dihentikan. Ini bukan lagi relevan. Yang dibutuhkan umat hari ini adalah persatuan, bukan konflik,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan mazhab adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, bahkan dalam satu mazhab sekalipun.
“Ukhuwah Islamiyah adalah kekuatan terbesar umat. Ini yang justru ditakuti oleh pihak-pihak yang ingin melihat Islam terpecah,” tambahnya.

Pesan untuk Mahasiswa dan Umat Islam
Menutup refleksinya, Hasani menyampaikan pesan khusus bagi mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Iran. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas tanpa harus larut dalam perbedaan mazhab.
“Belajar di Iran tidak harus menjadi Syiah. Jadilah pribadi yang membawa nilai kasih sayang dan kemuliaan Islam,” pesannya.
Ia juga memberikan ruang penghormatan bagi mereka yang bermazhab Syiah agar tetap percaya diri dalam menebarkan nilai-nilai kebaikan.
Mengutip semangat Imam Syafi’i, Hasani menegaskan pentingnya sikap terbuka terhadap perbedaan.
“Jika karena mencintai Ahlulbait dituduh Syiah, maka tuduhlah aku Syiah,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa cinta dan penghormatan dalam Islam tidak semestinya menjadi sumber perpecahan.
Dari Iran, Dr. Hasani Ahmad Said tidak hanya membawa cerita, tetapi juga perspektif yang menantang cara pandang lama. Tentang bagaimana Al-Qur’an dijaga melalui akhlak, ilmu ditegakkan dengan disiplin, dan perbedaan disikapi dengan kedewasaan.
Di tengah dunia Islam yang kerap terbelah, pesannya terdengar sederhana—namun mendesak:
Persatuan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
(Has/Red*)















