CILEGON, WILIP.ID – Semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Kelurahan Karang Asem, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon. Hal itu tercermin dari semakin banyaknya warga yang secara sukarela mewakafkan maupun menghibahkan tanah untuk kepentingan rumah ibadah dan fasilitas umum.
Pada Senin, 27 Juli 2026, Lurah Karang Asem, Syafiudin, mengungkapkan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada para wakif dan donatur yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan lingkungan.
Menurut Syafiudin, salah satu bentuk kepedulian tersebut datang dari Haji Tajuddin yang mewakafkan dua bidang tanah untuk pembangunan dan pengembangan rumah ibadah di wilayah Jograsri.
“Atas nama Pemerintah Kelurahan Karang Asem, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Haji Tajuddin yang telah mewakafkan tanahnya untuk kepentingan umat,” ujar Syafiudin.
Ia menjelaskan, tanah wakaf seluas 950 meter persegi diberikan untuk Masjid Al-Kahfi di lingkungan RT 04 RW 06 Jograsri. Sementara itu, wakaf kedua seluas 1.378 meter persegi diperuntukkan bagi Masjid Nurul Mu’minin di RT 05 RW 06.
Tak hanya menerima wakaf, Pemerintah Kelurahan Karang Asem juga memastikan seluruh aset tersebut memiliki kepastian hukum. Proses sertifikasi tanah wakaf kini telah selesai sehingga kedua masjid tersebut resmi memiliki legalitas yang sah.
“Alhamdulillah, hari ini sertifikat tanah wakaf telah kami selesaikan. Tanah dari wakif sudah resmi diserahkan kepada nazir yang dibentuk dari unsur tokoh masyarakat, RT, dan RW. Ini menjadi langkah penting agar aset umat terlindungi secara hukum,” katanya.
Syafiudin menilai legalitas tanah wakaf menjadi bagian penting dalam menjaga aset keagamaan agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Tidak berhenti di sana, semangat berbagi juga terlihat di lingkungan Sambiranggon RW 05. Di wilayah tersebut, masyarakat secara swadaya membebaskan tujuh rumah sebagai bentuk wakaf untuk perluasan area masjid.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Karang Asem memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap kepentingan bersama. Mereka rela berkorban demi kemajuan lingkungan dan rumah ibadah,” ujarnya.
Kontribusi serupa juga datang dari Haji Awara yang menghibahkan lahan seluas sekitar 900 meter persegi untuk pembangunan saluran drainase.
Lahan tersebut digunakan untuk pembangunan saluran air sepanjang kurang lebih 300 meter dengan lebar sekitar 3 meter yang menghubungkan wilayah RW 01 Jerang Barat hingga RW 02 Jerang Tengah.
Menurut Syafiudin, pembangunan drainase tersebut memiliki manfaat besar dalam mengurangi potensi genangan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.
“Beliau bahkan membeli tanah milik warga agar saluran air dapat dibangun dengan baik. Ini bukan pekerjaan ringan, tetapi beliau menunjukkan kepedulian yang luar biasa terhadap kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Syafiudin mengatakan, budaya saling membantu yang tumbuh di Karang Asem menjadi modal sosial yang sangat berharga. Warga yang memiliki kemampuan ekonomi terdorong untuk berbagi, sementara pemerintah hadir sebagai fasilitator agar semangat tersebut dapat diwujudkan secara nyata.
Sebagai lurah, ia mengaku lebih mengedepankan pendekatan persuasif dan silaturahmi dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi kunci lahirnya kepercayaan sehingga berbagai program sosial dapat berjalan dengan lancar.
“Kami selalu membangun komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Yang mampu kami dorong untuk membantu yang membutuhkan. Pemerintah kelurahan, kecamatan, tokoh masyarakat, RT dan RW harus menjadi jembatan agar semangat kebersamaan ini terus tumbuh,” katanya.
Ia berharap budaya wakaf, hibah, dan gotong royong yang telah mengakar di Karang Asem dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Semoga para wakif dan donatur diberikan kesehatan, keberkahan, serta pahala yang terus mengalir. Kepedulian seperti inilah yang menjadi kekuatan utama dalam membangun Karang Asem yang lebih maju, religius, dan sejahtera,” pungkasnya.
(Has/Red*)















