Desa Talaga Jadi Lokus Program Lintas Kementerian: Dari Sungai Gus Ipul Menuju Sekolah Rakyat

SERANG, WILIP.ID – Tujuh kementerian bahu-membahu membenahi Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten. Kawasan yang dahulu sunyi ini kini menjadi lokus percontohan nasional bagi program rehabilitasi dan pemberdayaan sosial. Sentralnya: Taman Firdaus, yang dialiri Sungai Gus Ipul—sebuah kawasan yang tidak hanya mengalirkan air, tapi juga harapan.

Program ini merupakan kelanjutan dari inisiasi revitalisasi sungai yang digagas oleh Firdaus, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), sekaligus tokoh pers Banten. Gagasan Firdaus kini menjelma menjadi proyek lintas kementerian yang mencoba menjawab tantangan klasik di desa-desa tertinggal: kemiskinan, keterisolasian, dan ketimpangan pembangunan.

Tujuh kementerian terlibat langsung, mulai dari Kementerian Sosial, Kementerian Desa, hingga Kementerian Koperasi dan Ekonomi Kreatif. Sinergi ini berfokus pada penyediaan alat bantu disabilitas, dukungan bagi pelaku UMKM, serta penguatan sektor ekonomi kreatif lokal. Tidak hanya itu, kehadiran “Sekolah Rakyat” dirancang sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan warga.

“Kita punya keinginan yang sama. Tugas utama kami adalah mengentaskan kemiskinan. Karena itu, tujuh kementerian ini harus bergerak bersama dan solid,” ujar Abdul Haris, Deputi di Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Selasa, 20 Mei 2025.

Menurut Haris, Desa Talaga dipilih karena menyandang status sebagai wilayah dengan angka kemiskinan tinggi, namun memiliki cadangan potensi ekonomi yang belum terkelola. Program ini merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2005 yang menekankan pentingnya penggunaan data BPS dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Ia menyebut empat prioritas utama: menyasar desa tertinggal, menjangkau daerah terisolasi, mendorong pelaku UMKM dan ekonomi kreatif, serta membangun Sekolah Rakyat sebagai simpul pemberdayaan.

“Desa Talaga menjadi model awal yang kami harapkan bisa direplikasi ke daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, Mira Riyati Kurniasih, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif. “Talaga kami tetapkan sebagai desa dampingan karena selain angka kemiskinannya tinggi, potensi ekonominya juga besar. Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menjawab tantangan ini,” ujarnya.

Dalam kegiatan yang digelar di Taman Firdaus, perwakilan kementerian juga berdialog langsung dengan warga. Suara-suara dari akar rumput itu menjadi bahan baku penting dalam merancang intervensi yang tepat sasaran.

Pemerintah berharap pendekatan lintas kementerian ini bisa mempercepat perubahan di desa-desa seperti Talaga—menjadikannya tak hanya sekadar titik di peta, tapi juga titik balik menuju masa depan yang lebih baik.

Redaksi | Wilip.id