CILEGON, WILIP.ID – Kota Cilegon terus melaju sebagai salah satu pusat industri paling strategis di Provinsi Banten. Deretan kawasan industri, investasi skala besar, hingga proyek pembangunan yang terus bergulir menjadikan kota baja ini sebagai motor penggerak ekonomi di kawasan barat Pulau Jawa.
Namun di balik geliat pembangunan yang masif itu, ada satu identitas yang tidak boleh terpinggirkan: Cilegon sebagai kota santri.
Bagi sebagian kalangan, kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah kota. Cilegon juga memiliki akar sejarah panjang sebagai tanah para ulama dan pesantren yang selama puluhan tahun menjadi penjaga nilai moral, spiritual, sekaligus budaya masyarakat.
Panglima Ormas Kesatuan Aksi Jam’iyah Intifadah Muda Banten (KAJI Muda Banten), M. Ibrohim Asawdi, menegaskan bahwa pembangunan industri yang terus berkembang harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, Cilegon tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai kota santri di tengah arus investasi dan industrialisasi yang semakin besar.
“Cilegon hari ini berkembang pesat sebagai kota industri dan pusat investasi strategis. Tapi kita tidak boleh melupakan bahwa kota ini juga memiliki akar sejarah kuat sebagai kota santri dan kota para ulama,” ujarnya, Senin 16 Maret 2026.
Ia menilai, dalam proses pembangunan kota, keterlibatan tokoh agama seperti ulama, kiai, ustadz, serta kalangan pesantren menjadi sangat penting. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol, tetapi sebagai penjaga arah moral pembangunan.
Ibrohim mendorong agar pemerintah daerah, pelaku industri, hingga para investor yang beroperasi di Cilegon membuka ruang sinergi dengan kalangan pesantren dan tokoh agama.
Menurutnya, pembangunan yang besar justru harus berjalan dekat dengan para ulama. Sebab, dalam sejarah bangsa Indonesia, pesantren dan ulama selalu memainkan peran penting dalam menjaga nilai-nilai moral dan spiritual masyarakat.
“Jangan sampai kemajuan ekonomi justru menjauh dari nasihat, doa, dan bimbingan para ulama,” tegasnya.
Lebih jauh ia menilai, keterlibatan kalangan pesantren akan memastikan bahwa pembangunan tidak semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan keberkahan, etika, tanggung jawab sosial, serta keseimbangan lingkungan.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting agar pembangunan yang berlangsung tidak hanya melahirkan kemajuan materi, tetapi juga kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Dengan doa dan bimbingan para ulama serta santri, pembangunan di Cilegon diharapkan berjalan dengan penuh hikmah dan keberkahan. Ia mengingatkan, kemajuan yang tidak disertai nilai moral berpotensi membawa dampak sosial yang tidak diinginkan.
“Pembangunan harus dijaga agar tidak menimbulkan kerusakan, tidak membawa bencana dan malapetaka, serta tidak menyebabkan tercerabutnya nikmat-nikmat besar yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kota ini,” katanya.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, industri, dan kalangan pesantren dinilai menjadi kunci penting masa depan Cilegon. Kolaborasi tersebut diyakini mampu menciptakan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kekuatan spiritual masyarakat.
Jika keseimbangan itu terjaga, Cilegon tidak hanya akan dikenal sebagai kota industri yang kuat, tetapi juga sebagai kota santri yang bermartabat—kota yang tumbuh dengan keberkahan, kemaslahatan, dan kesejahteraan bagi seluruh warganya.
(Has/Red*)















