CILEGON, WILIP.ID – Di tengah peta politik yang kian berwarna dan sering kali terbelah antara identitas keislaman dan nasionalisme, Ketua DPD Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Kota Cilegon, Fikri Hanif Maulana, datang dengan gagasan yang mencoba menautkan keduanya. Ia menyebutnya sebagai semangat “Islam Nasionalis” — sebuah upaya membangun jembatan ideologis antara nilai-nilai Islam yang inklusif dan semangat kebangsaan yang berakar pada Pancasila.
“Kalau banyak partai memilih menonjolkan salah satu identitas, Gelora justru ingin berdiri di tengahnya,” ujar Fikri seusai kegiatan Sosialisasi Arah Perjuangan Partai di Ballroom Greenotel, Cilegon, Minggu (9/11/2025). “Kami ingin menjembatani dua arus besar itu melalui nilai Islam yang rahmatan lil alamin dan nasionalisme yang membumi.”
Gagasan itu, kata Fikri, bukan sekadar retorika. Ia menyebutnya sebagai narasi besar yang diusung oleh Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta dan Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, yang sejak awal ingin melahirkan politik baru — politik yang merangkul, bukan memisahkan.
“Islam Nasionalis bukan hanya jargon. Ini strategi membangun harmoni bangsa di tengah polarisasi yang terlalu sering kita lihat di ruang publik,” ujarnya. “Gelora ingin menjadi permadani yang menyatukan semua warna bangsa.”
Fikri percaya, partainya lahir bukan untuk menambah sekat, melainkan mengurai simpul-simpul perbedaan yang sering menjebak bangsa dalam pertentangan identitas. “Kita ingin membangkitkan potensi Indonesia — di bidang ekonomi, sosial, dan teknologi. Politik seharusnya menjadi sarana membangun peradaban, bukan panggung perpecahan.”
Dalam kesempatan itu, Fikri tak hanya bicara tentang ide besar. Ia juga menyinggung langkah-langkah nyata di lapangan. Partai Gelora Cilegon, katanya, sudah menunjukkan hasil kerja politik yang konkret.
“Alhamdulillah, pada kontestasi kemarin, kita berhasil mengantarkan kader ke legislatif dan ikut memenangkan pasangan eksekutif,” katanya. “Itu bukan hasil kerja individu, tapi buah dari kekompakan kader dan simpatisan Gelora di semua tingkatan.”
Namun, capaian itu bukan titik akhir. Fikri menegaskan target baru: membentuk satu fraksi penuh di DPRD Cilegon. Ia yakin, dengan kekuatan gagasan dan kedisiplinan gerakan, Gelora mampu memperluas pengaruhnya di panggung politik lokal.
“Kami ingin politik di Cilegon lebih beradab. Kebijakan harus berpihak pada pendidikan, kesejahteraan, dan kemajuan ekonomi masyarakat,” tuturnya dengan nada tegas.
Menutup pernyataannya, Fikri kembali menegaskan arah perjuangan partainya: membangun politik yang tidak terjebak dalam sekat ideologis, sosial, atau bahkan emosional.
“Insya Allah, dengan kerja kolektif, Indonesia akan menjadi kekuatan besar di masa depan,” katanya optimistis.
Bagi Fikri, Partai Gelora bukan sekadar partai politik, melainkan wadah energi baru yang ingin mengalirkan semangat perubahan — menggabungkan idealisme Islam dengan realitas kebangsaan dalam satu gelombang besar: Gelora untuk Indonesia.
(Elisa/Red)















