Hardiknas & May Day: Buruh Cilegon Kembali ke Sekolah, Mengejar Mimpi yang Tertunda

CILEGON, WILIP.ID — Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025, dua organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Cilegon meluncurkan program yang menyentuh langsung kebutuhan mendasar para buruh: pendidikan. Lewat program bertajuk Buruh Sekolah, para pekerja yang selama ini tak memiliki ijazah kesetaraan akhirnya punya kesempatan menuntaskan pendidikan mereka.

Program ini digagas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Cilegon. Sasarannya jelas: buruh yang belum tamat sekolah bisa mengikuti program Kejar Paket A, B, dan C secara gratis.

“Inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Banyak buruh kita yang bekerja tanpa bekal ijazah, padahal itu penting untuk mobilitas dan kesejahteraan mereka,” ujar Vania Eriza, Kepala Bidang Pengelolaan PAUD dan Pendidikan Non Formal Dindikbud Cilegon, Jumat, 2 Mei 2025.

Data awal mencatat, setidaknya 27 buruh dari Serikat Pekerja FSP KEP SPSI Kota Cilegon akan menjadi peserta angkatan pertama. Penyerahan daftar nama mereka dilakukan secara simbolis oleh Kepala Disnaker Cilegon kepada Kepala Dindikbud Cilegon, menandai dimulainya pendidikan kesetaraan bagi buruh pada tahun ajaran 2025.

Peringatan May Day tahun ini membawa tema besar Merajut Kebersamaan untuk Meningkatkan Kesejahteraan dan Produktivitas Nasional. Namun, bagi Faruk Oktavian, Kepala Bidang Hubungan Industri Disnaker Cilegon, satu isu lebih mendesak ketimbang sekadar perayaan: kualitas sumber daya manusia. “Ijazah itu bukan hanya selembar kertas. Itu pintu menuju keterampilan yang lebih baik, peluang kerja yang lebih baik,” ujarnya.

Menurut Faruk, Cilegon sebagai kota industri tak bisa bertumpu semata pada pabrik-pabriknya, tetapi juga pada kemampuan manusianya. Buruh Sekolah, baginya, bukan program seremonial belaka, melainkan investasi untuk masa depan industri lokal.

Di kota yang dikenal keras dan sibuk ini, sekolah tak lagi jadi ruang eksklusif bagi anak-anak. Kini, ia juga jadi panggung bagi buruh-buruh untuk menebus mimpi yang sempat tertunda — dan barangkali, untuk membuka lembar baru dalam hidup mereka.

(Red*)