IKAMAH Dilantik: Saat Alumni Al Khairiyah Meneguhkan Peran Pesantren di Tengah Zaman

CILEGON, WILIP.ID – Di aula Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Cilegon, Sabtu siang, 25 Oktober 2025, Para tokoh pesantren, guru, dan alumni berbaur dalam satu semangat: kebangkitan Ikatan Alumni Al Khairiyah Karang Tengah, atau yang akrab disebut IKAMAH.

Pelantikan itu bukan sekadar seremoni. Ia menandai babak baru hubungan antara alumni, pesantren, dan masyarakat. Dari podium, Nurdin Sibaweh, koordinator presidium IKAMAH, menatap barisan hadirin dengan nada optimistis.

“Saya sangat bangga melihat semangat baru dari para alumni. Ini langkah nyata kebangkitan organisasi kita,” ujarnya.

Empat Arah Perjuangan: Dari Digitalisasi hingga Pengabdian IKAMAH menegaskan empat fokus kerja utama yang akan menjadi kompas organisasi lima tahun ke depan.

Pertama, memperkuat jejaring alumni melalui platform digital.

Organisasi berencana membangun sistem komunikasi berbasis teknologi, menjembatani para alumni yang kini tersebar di berbagai daerah dan profesi. “Jejaring digital ini akan menjadi ruang silaturahmi dan kolaborasi,”.

Kedua, mengembangkan potensi alumni lintas bidang.

Dari pengusaha, birokrat, hingga akademisi, alumni Al Khairiyah diyakini menyimpan energi besar untuk berkontribusi. IKAMAH berkomitmen menjadi wadah pengembangan kapasitas dan karier para anggotanya.

Ketiga, memperkuat kontribusi terhadap almamater.

Melalui kerja sama dengan madrasah dan pesantren, alumni akan ikut mengembangkan sarana, kurikulum, serta program pemberdayaan santri.

Keempat, mengambil peran strategis di tengah masyarakat.

Para alumni didorong tak hanya menunggu panggilan sosial, melainkan mengambil inisiatif.

“Alumni Al Khairiyah Karang Tengah harus menjadi penggerak — bukan pengikut — di masyarakat,” tegas presidium dalam pernyataan resminya.

Pesantren, Akar Spirit, dan Jalan Pengabdian

Gerakan revitalisasi IKAMAH bertolak dari nilai Islam yang sederhana namun mendalam: khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Prinsip ini menjadi napas gerakan alumni yang ingin kembali meneguhkan peran pesantren dan madrasah di tengah arus modernitas.

“Pesantren bukan sekadar tempat belajar, tapi ruang pembentukan karakter dan pengabdian,” ujar salah satu tokoh senior Al Khairiyah. “Alumni harus terus menjaga nilai-nilai itu di masyarakat.”

Di tengah dunia yang kian digital dan pragmatis, pesantren dan madrasah kerap menjadi jangkar moral. Melalui IKAMAH, para alumni ingin memastikan bahwa akar nilai itu tidak tercerabut oleh waktu. Mereka tidak hanya ingin dikenang sebagai lulusan lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai penjaga nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Pelantikan IKAMAH di Cilegon ini mungkin terlihat sederhana, namun di baliknya tersimpan tekad besar: menghidupkan kembali jejaring alumni sebagai kekuatan sosial. Dari ruang kelas pesantren di Karang Tengah, mereka kini melangkah ke ruang publik — membawa semangat khairiyah dalam arti yang sebenar-benarnya: menjadi yang terbaik karena memberi manfaat.

 

(Elisa/Red*)