Berita  

Jepang Butuh 150 Ribu Pekerja, Indonesia Jadi Tumpuan

Sumber : Foto Sentora.id

JAKARTA, WILIP.ID – Di tengah bayang-bayang populasi yang menua dan angka kelahiran yang terus menurun, Jepang kini berpacu dengan waktu. Negeri Sakura kekurangan tenaga kerja dalam skala besar. Pemerintah Jepang pun membuka keran lebar-lebar bagi pekerja asing, dengan target mendatangkan 150 ribu orang dalam waktu dekat. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling diharapkan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Bukan tanpa alasan. Reputasisumber  pekerja Indonesia di mata perusahaan Jepang cukup moncer. Mereka dikenal ulet, disiplin, dan cepat beradaptasi dengan budaya kerja Jepang yang ketat dan hirarkis. “Peluang terbesar ada di Indonesia. Orang Jepang cukup menyukai pekerja Indonesia,” ujar Pranyoto Widodo, Ketua Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI) dikutip dari inilah.com.

Kaigo: Sektor Renta yang Makin Sekarat

Dari berbagai sektor yang membutuhkan tenaga kerja, perawatan lansia alias kaigo menempati urutan teratas. Jepang saat ini menghadapi tsunami demografis—jumlah penduduk berusia di atas 65 tahun melampaui 29 persen dari total populasi. Ini artinya, puluhan ribu lansia hidup dalam keterbatasan perawatan.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menargetkan lebih dari 50 ribu perawat asing untuk bekerja di sektor ini, melalui skema Specified Skilled Worker (SSW). “Tanpa bantuan pekerja asing, sistem perawatan lansia kami akan runtuh,” ungkap salah satu pejabat di kementerian tersebut.

Gaji Kompetitif, Bonus Menggiurkan

Untuk menarik minat pekerja asing, Jepang tak segan menawarkan gaji yang kompetitif. Peserta program magang (TITP) rata-rata digaji antara 80.000 hingga 120.000 yen per bulan—setara Rp8,2 juta hingga Rp12,3 juta. Setelah menyelesaikan kontrak selama tiga tahun, pekerja bisa mendapatkan pesangon hingga 700.000 yen (sekitar Rp72 juta), ditambah tunjangan modal usaha sebesar 600.000 yen (Rp61 juta).

Bandingkan dengan upah minimum di sejumlah provinsi Indonesia, tawaran ini tentu menggiurkan.

Dua Jalur: Magang dan Pekerja Terampil

Ada dua jalur utama yang bisa diikuti oleh calon pekerja Indonesia: Technical Intern Training Program (TITP) dan Specified Skilled Worker (SSW).

Program TITP memungkinkan peserta magang selama 3 hingga 5 tahun, sambil mempelajari keterampilan dan budaya kerja Jepang. Adapun SSW mensyaratkan keahlian khusus di bidang tertentu dan kemampuan bahasa Jepang setidaknya setara JLPT N4. Peserta SSW juga harus lulus ujian keterampilan dan bahasa sebelum berangkat.

Syarat Fisik dan Administratif

Namun, tak semua bisa lolos. Pemerintah Jepang memberlakukan sejumlah syarat ketat. Usia 18–30 tahun, lulusan minimal SMA, sehat jasmani dan rohani, tidak memiliki penyakit menular, serta tidak bertato atau memiliki bekas patah tulang.

Ada pula syarat fisik minimum: tinggi badan 158 cm (pria) dan 150 cm (wanita), berat badan minimal 50 kg dan 40 kg. Persyaratan ini dinilai perlu untuk memastikan pekerja mampu menjalani pekerjaan yang umumnya bersifat fisik dan penuh tekanan.

Lowongan Melimpah, Persiapan Tak Ringan

Selain sektor perawatan lansia, Jepang juga membuka pintu untuk pekerja asing di berbagai bidang seperti manufaktur, pertanian, perikanan, konstruksi, perhotelan, hingga teknologi informasi.

Namun untuk menembus pasar kerja Jepang, pelatihan adalah kunci. Di sinilah peran Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) menjadi vital. Salah satunya Izumi Indonesia, yang menawarkan pelatihan bahasa Jepang, pengenalan budaya kerja, hingga pendampingan administratif.

Proses persiapan ini bisa memakan waktu antara enam hingga dua belas bulan. Calon pekerja harus mengikuti pelatihan intensif agar siap secara mental, teknis, dan komunikatif.

Kesempatan Emas yang Butuh Disiplin Besi

Tak bisa dimungkiri, program kerja ke Jepang menjadi oase di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan di dalam negeri. Tapi ini bukan jalan pintas. Butuh disiplin tinggi, stamina kuat, dan tekad baja untuk menembus seleksi dan bertahan di kerasnya sistem kerja Jepang.

Namun bagi mereka yang siap, Jepang bukan hanya menawarkan pekerjaan, tetapi juga peluang hidup yang lebih baik—dan bekal keterampilan yang bisa dibawa pulang untuk masa depan.

Redaksi | Wilip.id