Kota Baja Melesat, Rakyat Tertinggal? Ari Muhammad Nurhayat Bicara Jujur

CILEGON, WILIP.ID – Kota baja kembali bersolek. Pabrik-pabrik berdiri kian rapat, lalu lintas truk pengangkut barang kian padat. Sejak sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) ditetapkan pemerintah pusat untuk menopang kawasan industri Cilegon, aliran modal asing dan domestik mengalir deras ke kota ini.

Namun, di tengah gegap gempita geliat ekonomi itu, sebuah suara kritis muncul—tajam, jernih, dan tak bisa diabaikan. Adalah Ari Muhamad Nurhayat, anggota DPRD Kota Cilegon dari Fraksi PKB, yang mengingatkan agar pesta investasi tidak berakhir sebagai bom waktu sosial.

“Kita menyambut baik investasi, tapi jangan sampai semangat kebersamaan justru tergerus oleh hasrat monopoli,” kata Ari dalam keterangannya kepada Wilip.id, Selasa malam, 13 Mei 2025.

Ari bukan sekadar melontarkan kritik. Ia bicara atas dasar kedekatan dengan denyut warga akar rumput—mereka yang kerap luput dari radar pembangunan. Ia melihat langsung bagaimana kemegahan industri tak selalu membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Perekrutan tenaga kerja yang menafikan warga lokal, serta pola kemitraan yang eksklusif, menurutnya bisa menjadi awal dari kesenjangan yang membahayakan.

“Label PSN jangan dijadikan dalih untuk mengabaikan hak-hak masyarakat lokal. Kalau itu terjadi, ketimpangan akan menumpuk. Dan suatu saat bisa meledak,” ujarnya dengan nada serius.

Ari menyoroti pentingnya harmoni antara industri dan komunitas lokal. Menurutnya, hubungan antara keduanya tak boleh hanya berdasarkan kalkulasi laba, melainkan harus berpijak pada asas keadilan dan keberlanjutan.

“Industri harus menjadi alat untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Kalau tidak, masalah sosial akan muncul. Mungkin bukan hari ini, tapi lima atau sepuluh tahun ke depan. Dan saat itu tiba, kita semua akan merasakan akibatnya,” tegasnya.

Pernyataan Ari adalah alarm dini yang layak disimak—terutama di tengah euforia pertumbuhan ekonomi. Ia menunjukkan bahwa pembangunan yang melaju tanpa rem keadilan sosial, hanya akan menciptakan jurang pemisah yang dalam: antara mereka yang menikmati kue pembangunan dan mereka yang hanya menatap dari balik pagar pabrik.

Sebagai legislator yang konsisten menyuarakan aspirasi rakyat kecil, Ari patut diapresiasi. Di saat banyak pejabat larut dalam narasi besar pertumbuhan dan investasi, ia justru berdiri di sisi yang kerap terlupakan: rakyat biasa. Ia menegaskan bahwa keberhasilan industri tak cukup diukur dari grafik pertumbuhan atau volume ekspor, melainkan dari seberapa luas masyarakat turut menikmati manfaatnya.

Dan dalam sejarah panjang pembangunan di negeri ini, pengingat semacam itu selalu datang dari mereka yang tak takut bicara. Ari, kali ini, berbicara lantang. Dan suaranya layak didengar.

*Redaksi Wilip.id*