Lampu Ala Jogja Bersinar, RTLH di Keserangan Terabaikan? LSM Gapura Banten Sentil Pemkot Cilegon

Keterangan Foto : Kontras pembangunan di Kota Cilegon: di satu sisi lampu hias ala Jogja mempercantik wajah kota, di sisi lain rumah tidak layak huni di Keserangan, Rawa Arum, masih menunggu sentuhan bantuan. Wajah kota boleh bersinar, tapi isi kotanya jangan dibiarkan redup.

CILEGON, WILIP.ID – Kritik tajam dilontarkan Ketua LSM Gapura Banten, Husen Saidan, terhadap arah pembangunan di Kota Baja. Ia menilai, pemerintah jangan hanya sibuk “mempercantik wajah kota” dengan pemasangan lampu hias ala Malioboro Jogja, sementara di balik gemerlap itu masih banyak rumah warga yang tidak layak huni dan luput dari sentuhan bantuan.

“Jangan hanya mempercantik wajah dengan lampu-lampu ala Jogja, sementara di dalamnya masih banyak rumah tidak layak huni. Kalau sudah bagus di dalamnya, baru wajahnya. Ini justru lagi kronis,” tegas Husen, Sabtu (28/2/2026).

Sorotan itu mengarah pada program penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang sebelumnya digencarkan di era kepemimpinan Helldy–Sanuji dengan target 1.000 unit. Husen berharap, program tersebut tidak berhenti di tengah jalan dan dilanjutkan secara konsisten di era kepemimpinan Robinsar–Fajar.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur estetika tidak boleh menutup mata terhadap persoalan mendasar masyarakat, terutama hunian yang jauh dari standar kelayakan.

Salah satu contoh yang disorot berada di Lingkungan Keserangan, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol. Dalam video yang beredar, tampak sebuah rumah tidak layak huni berdiri persis di pinggir jalan utama. Ironisnya, hingga kini belum tersentuh program perbaikan.

Pemilik rumah mengaku belum pernah didatangi oleh pihak RT maupun RW untuk pendataan bantuan. “RT RW-nya pun belum pernah datang ke rumah kita. Kita sih berharap ada bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Kondisi ini dinilai menjadi potret kontras antara slogan pembangunan dan realitas di lapangan. Husen menegaskan, jika rumah yang lokasinya tepat di tepi jalan utama saja tidak terlihat, maka ada yang perlu dievaluasi dalam sistem pendataan dan pengawasan.

“Rumah itu persis di pinggir jalan utama, masa tidak terlihat?” katanya.

Lebih jauh, Husen juga menyinggung slogan “Cilegon Juare”. Ia mengaku sepakat dengan semangat tersebut, namun menekankan bahwa slogan harus diiringi dengan aksi nyata.

“Slogan Cilegon Juare itu saya sangat setuju. Tapi kalau tidak diiringi aksi nyata, ya nol,” tandasnya.

Kritik ini menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan sekadar soal estetika kota. Lampu-lampu hias memang bisa mempercantik ruang publik dan menumbuhkan daya tarik visual. Namun, bagi keluarga berpenghasilan minim yang tinggal di rumah reyot, prioritas mereka bukanlah cahaya lampu kota, melainkan atap yang tidak bocor dan dinding yang kokoh.

Di tengah semangat memperindah ruang kota, publik kini menunggu konsistensi pemerintah dalam menuntaskan pekerjaan rumah lama: memastikan setiap warga memiliki hunian yang layak dan aman.

Sebab pada akhirnya, wajah kota yang sesungguhnya bukan terletak pada gemerlap lampunya, melainkan pada kualitas hidup warganya.

 

(Has/Red*)