CILEGON, WILIP.ID – Mencetak pemimpin tidak cukup hanya dengan membekali generasi muda pengetahuan. Karakter, integritas, akhlak, dan keberanian mengambil peran juga harus dibangun sejak dini. Semangat itulah yang diusung Majelis Ilmu Al-Khairiyah melalui Latihan Kader Majelis Ilmu (LKMI), Jumat-Sabtu (30-31/10/2026).
Selama dua hari, kegiatan tersebut menjadi ruang pengaderan sekaligus pembentukan karakter bagi generasi muda Al-Khairiyah. Mengangkat tema “Membentuk Kader Majelis Ilmu yang Berakhlak, Berilmu, Berintegritas, dan Berjiwa Kepemimpinan”, LKMI diarahkan untuk menyiapkan kader yang tidak hanya memahami nilai-nilai keilmuan dan keislaman, tetapi juga siap berkontribusi dalam organisasi dan masyarakat.
Ketua Panitia, M. Azdi Fahmi, mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Dia berharap para peserta tidak sekadar hadir mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi benar-benar memanfaatkan LKMI sebagai proses pembelajaran.
Kesungguhan dalam mengikuti pengaderan, menurutnya, menjadi bagian penting dalam membentuk kader yang memiliki karakter dan tanggung jawab.
Pesan lebih mendasar disampaikan Pembina Majelis Ilmu Al-Khairiyah, Dr. Sayuti Zakaria, M.Pd.I. Dia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan akhlak dan integritas.
Bagi seorang kader, ilmu bukan sekadar sesuatu yang dipelajari atau dikuasai. Ilmu harus menjadi pijakan dalam berpikir, menentukan sikap, dan mengambil keputusan. Sementara nilai-nilai keislaman harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Di sisi lain, Ketua Majelis Ilmu Al-Khairiyah, Alimulloh, mengingatkan pentingnya menjaga soliditas dan semangat berorganisasi. Dia mengajak peserta memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan organisasi.
Kaderisasi, kata dia, tidak boleh berhenti pada status keanggotaan semata. Setiap kader dituntut mampu menunjukkan peran melalui gagasan, karya, dan pengabdian nyata.
Motivasi juga datang dari Presiden Mahasiswa Institut Agama Islam Al-Khairiyah, Ahmad Holiluloh. Dia mendorong peserta agar berani mengambil peran, membangun pola pikir kritis, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan.
Menurutnya, kader yang berkualitas harus mampu membawa perubahan positif, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di tengah kehidupan masyarakat.
Bukan Sekadar Regenerasi, tetapi Menyiapkan Pemimpin
LKMI menjadi salah satu langkah Majelis Ilmu Al-Khairiyah dalam membangun kesinambungan organisasi. Sebab, regenerasi tanpa pembinaan hanya akan melahirkan pergantian kepengurusan, bukan jaminan lahirnya pemimpin berkualitas.
Karena itu, proses pengaderan diharapkan tidak berakhir setelah kegiatan dua hari tersebut selesai. Pembinaan harus terus berjalan agar nilai-nilai keilmuan, keislaman, integritas, dan kepemimpinan benar-benar tumbuh dalam diri setiap kader.
Targetnya bukan sekadar melahirkan generasi yang aktif berorganisasi, melainkan pribadi yang unggul dalam keilmuan, santun dalam akhlak, teguh dalam prinsip, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat.
Majelis Ilmu Al-Khairiyah pun berharap para peserta LKMI mampu menjadi generasi penerus yang menjaga nilai-nilai perjuangan Al-Khairiyah sekaligus menghadirkan manfaat bagi agama, bangsa, dan negara.
Harapan tersebut bermuara pada lahirnya generasi MUFLIHUN, generasi yang meraih keberuntungan dan keberhasilan serta kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Majelis Ilmu Al-Khairiyah: Mencetak Kader, Menguatkan Peradaban, dan Menggerakkan Perubahan.
(Alfa/Red*)















