Pasar Bunder: Bangunan Mati di Tengah Janji Pemerintah

CILEGON, WILIP.ID — Setelah bertahun-tahun jadi bangunan mati, jalan masuk Pasar Bunder akhirnya terbuka. Lahan 460 meter persegi yang selama ini menyumbat akses dibebaskan tanpa kisruh. Sebuah penyelesaian senyap di tengah bisingnya proyek-proyek publik yang kerap berujung konflik.

“Sudah kami bebaskan sejak seminggu lalu,” ujar Rais, Lurah Tegal Bunder, Rabu, 7 Mei 2025.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Warga tak lagi sabar menunggu. Revitalisasi Pasar Bunder harus segera dimulai. Terlalu lama bangunan itu hanya berdiri sebagai prasasti dari anggaran yang tak pernah hidup.

“Sudah waktunya pemerintah bertindak,” kata Toni Haryanto, warga Lingkungan Kedawung, Kelurahan Tegal Bunder. Ia menuntut transparansi. Tak ingin pasar ini kembali jadi ladang kompromi politik dan kepentingan gelap.

Pasar bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah denyut ekonomi lokal, ruang temu sosial, dan simbol kehadiran negara di tingkat paling bawah. Pemerintah yang lalai, hanya akan menjadikan Pasar Bunder sebagai lambang kegagalan tata kelola publik.

Membangun kembali pasar bukan perkara fisik semata. Ini soal menepati janji: bahwa anggaran rakyat harus kembali ke rakyat dalam bentuk yang nyata—bukan sekadar papan proyek yang usang diterpa hujan.

(Red*)