RSUD Cilegon Terendam Banjir 20–30 Cm, Layanan Sempat Terganggu di Tengah Cuaca Ekstrem

CILEGON, WILIP.ID — Hujan deras yang mengguyur Kota Cilegon sejak Sabtu malam hingga Minggu dinihari (8/3/2026) memicu banjir di sejumlah titik kota. Tak hanya permukiman warga, genangan air juga dilaporkan masuk ke kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon dengan ketinggian sekitar 20 hingga 30 sentimeter.

Masuknya air ke area rumah sakit sempat membuat aktivitas pelayanan kesehatan terganggu. Beberapa titik fasilitas terdampak genangan sehingga operasional pelayanan tidak berjalan normal pada saat air mulai naik.

Sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama di Kota Baja, kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat. Di tengah situasi darurat, rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling siap menghadapi berbagai kondisi krisis.

“Kalau rumah sakit saja ikut terendam, masyarakat harus bergantung ke mana saat kondisi darurat?” ungkap Andi, salah satu keluarga pasien yang berada di lokasi.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan klasik yang kerap muncul saat hujan deras melanda Cilegon: kesiapan infrastruktur kota dalam menghadapi cuaca ekstrem dan potensi banjir.

Meski demikian, pihak RSUD memastikan pelayanan terhadap pasien rawat inap tetap berjalan. Humas RSUD Kota Cilegon, Yoyo, menjelaskan banjir terjadi akibat intensitas hujan tinggi yang menyebabkan debit air Sungai Tempe meningkat hingga meluap.

“Meskipun musibah banjir akibat cuaca ekstrem dan debit air Sungai Tempe naik, pelayanan terhadap 78 pasien rawat inap tetap dilaksanakan secara optimal,” ujar Yoyo saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, tim internal rumah sakit sebenarnya telah bersiaga sejak dini hari untuk memantau perkembangan kondisi air di sekitar area RSUD.

“Tim rumah tangga dan Pamdal RSUD sudah siaga memantau debit air sejak pukul 00.00 WIB. Kemudian terkonfirmasi air mulai naik sekitar pukul 02.30 WIB,” jelasnya.

Begitu genangan mulai masuk ke kawasan rumah sakit, jajaran manajemen langsung bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan.

“Plt Direktur RSUD beserta jajaran manajemen langsung turun ke lapangan memantau dan memberikan instruksi penanganan banjir sesuai SOP yang berlaku,” kata Yoyo.

Upaya penanganan tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan medis tetap berjalan, terutama bagi pasien yang tengah menjalani perawatan.

Saat ini, kondisi air di area RSUD dilaporkan mulai berangsur surut dan situasi berangsur terkendali.

“Kondisi sekarang sudah berangsur surut dan semoga aman,” pungkasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa fasilitas publik vital seperti rumah sakit harus memiliki sistem mitigasi yang kuat terhadap bencana, termasuk banjir. Di kota industri seperti Cilegon yang terus berkembang, penguatan sistem drainase, tata kelola air, serta kesiapsiagaan fasilitas publik menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Sebab ketika rumah sakit ikut terdampak banjir, yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran pelayanan—tetapi juga keselamatan masyarakat yang bergantung pada layanan kesehatan di saat paling genting.

 

(Has/Red*)