CILEGON, WILIP.ID – Protes warga terhadap banjir yang merendam ratusan rumah di sejumlah kawasan Kota Cilegon mulai memanas. Sebuah spanduk bertuliskan cat semprot “KSP DZALIM, KELALAIAN KSP TENGGELAMKAN KAMI” terlihat terbentang di tembok pagar panel beton kawasan The Royale Krakatau Golf, yang berada di bawah pengelolaan PT Krakatau Sarana Properti (KSP).
Spanduk tersebut diduga dipasang sebagai bentuk kekecewaan warga yang terdampak banjir di wilayah Sumampir Timur, Komplek PGA, Kubangkutu hingga Perumahan Metro Cilegon. Warga menilai banjir yang terjadi pada 8 Maret 2026 bukan semata faktor cuaca, melainkan akibat kelalaian pengelolaan sistem air di kawasan lapangan golf tersebut.
Salah satu warga Komplek PGA yang aktif menyuarakan persoalan ini, Rizqi Baidullah, mengatakan tuntutan warga terhadap PT KSP kini mulai menemukan sejumlah fakta lapangan yang menguatkan dugaan adanya kelalaian.
Menurut Rizqi, sejak 9 Maret 2026, warga terdampak telah mengumpulkan berbagai bukti terkait penyebab banjir yang diduga berasal dari area lapangan golf. Ia menyebut robohnya pagar panel beton milik kawasan tersebut menjadi salah satu titik krusial yang menyebabkan air mengalir deras hingga merendam ratusan rumah.
“Air yang keluar dari area lapangan golf itu sangat besar. Ketika pagar roboh, air langsung menyebar ke permukiman warga,” ujar Rizqi, Sabtu, 14 Maret 2026 keada Wilip.id.
Upaya penelusuran juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama pihak Kelurahan Kebondalem pada 10 Maret 2026. Dalam pertemuan itu, Rizqi bersama warga lainnya, termasuk Ade Hari Sucipto dari lingkungan Kubangkutu, mengaku memperoleh sejumlah informasi penting.
Salah satu temuan yang disampaikan adalah adanya surat dari pihak kelurahan kepada PT KSP pada Januari 2026. Surat tersebut berisi permintaan agar pihak pengelola melakukan pengerukan danau atau tandon di dalam kawasan lapangan golf sebagai langkah antisipasi luapan air saat musim hujan.
Namun hingga banjir terjadi pada awal Maret lalu, pengerukan tersebut disebut belum dilakukan. Alasan yang disampaikan saat itu adalah keterbatasan anggaran.
Temuan lain yang menjadi sorotan warga adalah dugaan gagalnya sistem pengelolaan air di kawasan lapangan golf. Sistem tersebut seharusnya berfungsi mengalirkan air berlebih dari danau golf ke sungai melalui dua pintu air.
Ade Hari Sucipto menjelaskan, kegagalan sistem itu diduga menyebabkan air terjebak di dalam area golf hingga meluap tinggi dan menekan pagar panel beton setinggi sekitar dua meter hingga akhirnya roboh.
“Kalau dipikir secara logika, air yang bisa mendorong pagar setinggi dua meter tentu bukan genangan biasa. Paling tidak tinggi air sudah sangat besar. Pertanyaannya, kenapa air bisa setinggi itu kalau sistem pembuangan airnya berjalan normal?” kata Ade.
Menurutnya, jika pintu air berfungsi optimal, air berlebih seharusnya langsung dialirkan ke sungai dan tidak sampai menumpuk di dalam area lapangan golf.
Untuk memperkuat dugaan tersebut, Rizqi dan sejumlah warga mengaku telah mendokumentasikan kondisi lapangan, mulai dari titik robohnya pagar hingga jalur aliran air menuju permukiman warga.
Seluruh bukti tersebut, kata Rizqi, telah dihimpun sebagai bahan tuntutan kepada pihak pengelola kawasan.
Warga pun kini memberi ultimatum kepada PT Krakatau Sarana Properti agar segera membuka ruang dialog dengan warga terdampak.
Rizqi menegaskan, jika dalam waktu dua hari tidak ada respons atau itikad baik dari pihak perusahaan, warga tidak menutup kemungkinan akan melakukan aksi demonstrasi.
“Kami sudah berupaya berkomunikasi secara baik-baik. Tapi jika dalam dua hari tidak ada tanggapan, jangan salahkan kalau nanti warga bergerak melakukan aksi yang lebih besar,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Krakatau Sarana Properti terkait tudingan kelalaian yang disampaikan warga. Namun tekanan publik tampaknya mulai meningkat, seiring munculnya simbol protes seperti spanduk yang kini terpampang di tembok kawasan elit lapangan golf tersebut.
Bagi warga terdampak, persoalan ini bukan sekadar banjir sesaat, melainkan menyangkut tanggung jawab atas kerugian ratusan keluarga yang rumahnya sempat terendam air.
Jika dialog tak kunjung terjadi, konflik antara warga dan pengelola kawasan diperkirakan bisa berubah menjadi gelombang protes yang lebih besar.
(Has/Red*)















