TIPIKAL Al-Khairiyah 2024 Mulai Turun ke Kelurahan di Citangkil

CILEGON, WILIP.ID – Program Al-Khairiyah Mengabdi 2025 resmi digulirkan. Tim Pengabdian Kader Al-Khairiyah (TIPIKAL) Angkatan 2024 langsung terjun ke kelurahan-kelurahan di Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, untuk membuka rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat.

Agenda perdana berlangsung pada Senin (22/9/2025) dengan kunjungan ke kantor kelurahan. Bukan hanya sekadar seremonial, tim TIPIKAL memperkenalkan program, menyerahkan buku panduan, hingga membicarakan teknis pelaksanaan kegiatan yang akan berjalan mulai 1 Oktober 2025 hingga 31 Januari 2026.

Pertemuan itu juga jadi ruang koordinasi antara mahasiswa dan para lurah. Sejumlah program kerja sama di bidang pendidikan, sosial, hingga keagamaan pun disepakati.

“Harapannya program ini bisa memberikan manfaat nyata, bukan hanya bagi mahasiswa tapi juga bagi masyarakat sekitar,” kata Direktur LPPM STIT Al-Khairiyah, Ade Imun Ramadan.

Mahasiswa Tak Dilepas Sendiri

Berbeda dengan kegiatan KKN pada umumnya, mahasiswa TIPIKAL tak berjalan sendirian. Mereka didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) di tiap kelurahan.

Daftar penempatan:

1. Meysi Apriliani, M.Pd. – Kelurahan Citangkil (11 mahasiswa)

2. Taufiq, M.Pd.I – Kelurahan Taman Baru (10 mahasiswa)

3. Is Nurhayati, M.Pd. – Kelurahan Deringo (12 mahasiswa)

4. Aan Kudratullah, M.Pd. – Kelurahan Warnasari (10 mahasiswa)

5. Mutiara Sofa, M.Pd. – Kelurahan Lebak Denok (11 mahasiswa)

6. Syarifuddin, S.Kom., M.Pd. – Kelurahan Samangraya (11 mahasiswa)

7. Hj. Eti Shobriyah, M.Pd. – Kelurahan Kebonsari (11 mahasiswa)

Total puluhan mahasiswa diterjunkan. Mayoritas penerima Beasiswa Pemkot Cilegon dan KIP. Kehadiran mereka diharapkan jadi penghubung nyata antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, dan warga.

Al-Khairiyah Mengabdi: Antara Retorika dan Realita

Program Al-Khairiyah Mengabdi sebenarnya bukan hal baru. Tapi tahun ini, TIPIKAL 2024 ditantang lebih jauh: membuktikan bahwa mahasiswa bukan sekadar hadir dalam seremoni, melainkan benar-benar jadi motor perubahan sosial.

Selama empat bulan ke depan, Citangkil akan jadi “laboratorium sosial” bagi mahasiswa Al-Khairiyah. Di titik inilah publik bisa menilai: apakah program ini hanya sebatas agenda kampus, atau sungguh menghadirkan manfaat yang membumi bagi warga?

 

(Elisa/Red*)