CILEGON, WILIP.ID – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Cilegon kembali menunjukkan alarm serius. Data per Agustus 2025 mencatat angka pengangguran mencapai 7,41 persen, meningkat dari 6,08 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menempatkan Cilegon sebagai wilayah dengan pengangguran tertinggi ketiga di Provinsi Banten.
Padahal, Cilegon selama ini dikenal sebagai kota industri berat dengan deretan pabrik skala raksasa yang terus menanamkan investasi. Lonjakan pengangguran di tengah pesatnya ekspansi industri inilah yang membuat sejumlah pihak bertanya-tanya: ada apa dengan link and match ketenagakerjaan di kota baja ini?
Tokoh Masyarakat Kota Cilegon, Muhammad Ibrohim Aswadi, menyebut kenaikan TPT tersebut sebagai anomali serius. Ia heran bagaimana mungkin kota dengan industri berskala nasional dan internasional justru mengalami peningkatan jumlah pengangguran.
“Ini fenomena yang tidak wajar. Investasi besar terus masuk, tapi pengangguran naik. Artinya ada yang tidak berjalan baik dalam penyiapan dan penyerapan tenaga kerja lokal,” tegas Ibrohim, Kamis, 4 Desember 2025 melalui pesan tertulis yang diterima Wilip.id.
Sebagai langkah konkret, Ibrohim mengusulkan agar Pemkot Cilegon bersama seluruh perusahaan membangun Pusat Pelatihan Industri Terintegrasi—sebuah model pendidikan dan pelatihan (vokasi) yang langsung terkoneksi dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, selama tidak ada ekosistem pelatihan terpadu yang benar-benar menyiapkan SDM lokal sesuai kebutuhan teknis di perusahaan, maka peningkatan TPT akan sulit ditekan.
“Kita butuh sekolah dan pelatihan terpadu, langsung terhubung dengan dunia industri. Setiap perusahaan punya kebutuhan spesifik; itu harus diselaraskan dengan kurikulum pelatihan bagi warga Cilegon,” tambahnya.
Program pelatihan berkelanjutan ini, kata Ibrohim, bisa menjadi “jalur cepat” bagi anak-anak muda Cilegon untuk memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri berat dan menengah.
Ibrohim juga menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat dalam proses rekrutmen tenaga kerja di seluruh kawasan industri, baik saat masa konstruksi maupun operasi.
“SDM lokal harus diprioritaskan. Kita tidak menolak pekerja dari luar, tapi jangan sampai warga Cilegon tertinggal di kota sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi antara pengawasan rekrutmen, penyiapan ekosistem pelatihan, dan kemitraan strategis dengan industri adalah kunci menurunkan angka pengangguran dalam jangka panjang.
“Jika pusat pelatihan terintegrasi ini dijalankan, TPT bisa ditekan secara sistematis. SDM Cilegon akan lebih siap, lebih kompeten, dan lebih mudah terserap,” tutup Ibrohim.
(Elisa/Red*)















