Usai Lebaran, Sampah Menggunung: DLH Cilegon Dorong Revolusi Pilah dari Rumah

CILEGON, WILIP.ID — Momen Lebaran 2026 tak hanya menghadirkan euforia silaturahmi dan hidangan melimpah, tetapi juga menyisakan persoalan klasik: lonjakan volume sampah. Di tengah kondisi ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon justru melihatnya sebagai peluang untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat—dari sekadar membuang, menjadi memilah dan mengelola.

Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, mengungkapkan bahwa produksi sampah selama periode Lebaran mengalami kenaikan signifikan, berkisar antara 10 hingga 20 persen dibandingkan hari biasa. Jika dalam kondisi normal volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bagendung berada di angka 310 ton per hari, maka selama Lebaran meningkat menjadi sekitar 340 hingga 360 ton per hari.

“Sebagian besar lonjakan berasal dari sampah organik, terutama sisa makanan khas Lebaran,” ujar Sabri, Senin (6/4/2026).

Fenomena ini, menurutnya, tidak terlepas dari pola konsumsi masyarakat yang meningkat drastis saat hari raya. Namun di balik itu, persoalan mendasar masih belum terselesaikan: rendahnya kesadaran dalam pengelolaan sampah.

DLH mencatat, pasca-Lebaran justru bermunculan titik-titik pembuangan sampah liar di sejumlah lokasi strategis. Kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) hingga ruas jalan industri di pusat kota menjadi titik rawan yang kembali dipenuhi tumpukan sampah.

“Ini bukan hanya soal volume, tapi juga soal perilaku. Masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan,” tegasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, DLH bergerak cepat. Petugas kebersihan dikerahkan secara maksimal, bahkan hingga malam dan dini hari, demi memastikan sampah tidak menumpuk terlalu lama dan mengganggu estetika kota.

“Kami tetap bekerja hingga dini hari. Ini komitmen kami menjaga kebersihan kota, terutama di momen Lebaran,” tambah Sabri.

Namun, upaya teknis semata dinilai belum cukup. Pemasangan spanduk larangan buang sampah sembarangan, misalnya, belum mampu memberikan efek jera yang signifikan. Karena itu, DLH mulai menggeser pendekatan—dari penindakan ke edukasi.

Edukasi menjadi kunci. DLH mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga. Sampah organik dapat diolah, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis bisa didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Langkah ini bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi bagian dari strategi besar pengelolaan sampah berkelanjutan. Terlebih, Pemerintah Kota Cilegon kini tengah berpacu dengan waktu menyusul tenggat dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang jatuh pada Juni 2026.

“Ini momentum bersama. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu keterlibatan aktif masyarakat untuk mengurangi beban TPA dan menjaga lingkungan,” tutupnya.

Lebaran boleh usai, tetapi pekerjaan rumah soal sampah masih panjang. Pertanyaannya kini sederhana: akankah masyarakat tetap membuang, atau mulai memilah?

 

(Has/Red*)