Sosial  

Ahmad Yusdi: Kepedulian H. Abah Sahruji terhadap Sosial dan Peranannya dalam Masyarakat

CILEGON, WILIP.ID – Nama H. Abah Sahruji, tokoh masyarakat sekaligus Ketua DPC Grib Jaya Cilegon, kembali menjadi sorotan setelah PT PLN Persero memadamkan sementara arus listrik di beberapa tempat ibadah. Insiden ini memicu keprihatinan, terutama di kalangan pengelola masjid yang terdampak.

Sebagai respon cepat terhadap kejadian tersebut, Abah Sahruji langsung mengambil inisiatif dengan memfasilitasi mediasi antara manajemen dan humas PT PLN Persero Cilegon. Dalam kesempatan tersebut, ia mengusulkan agar PLN menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) mereka untuk mendukung operasional tempat ibadah di wilayah Cilegon, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.

Langkah Abah Sahruji ini mendapat apresiasi dari Ahmad Yusdi, pengurus Lembaga Kajian Majlis Qohwah Cilegon (MQC), yang menilai dirinya sebagai tokoh yang sangat berperan dalam masyarakat. “Abah Sahruji adalah sosok yang multifungsi, seorang jawara, agamis, pengusaha, dan kini juga Ketua ormas Grib yang peduli dengan masalah sosial. Di Lebak ada Jayabaya, di Serang ada Chasan Sochib, dan di Cilegon kita memiliki Abah Sahruji,” kata Yusdi dalam wawancara di sebuah kafe di Grogol, Minggu (31 Januari 2025).

Yusdi menambahkan, meskipun Abah Sahruji memimpin sebuah organisasi masyarakat, ia tak hanya fokus pada kegiatan organisasi. Kepeduliannya terhadap isu sosial, seperti masalah pemadaman listrik di tempat ibadah, membuktikan dedikasinya untuk kesejahteraan masyarakat. “Abah Sahruji segera turun tangan dan berupaya agar PT PLN dapat memfasilitasi masjid serta tempat ibadah lainnya melalui dana CSR mereka,” ujar Yusdi.

Gagasan Abah Sahruji ini dianggap sangat relevan, mengingat Cilegon adalah salah satu kota industri terbesar dan terkaya di Indonesia. “Cilegon memiliki banyak industri besar, namun sayangnya dana CSR yang ada belum banyak disalurkan untuk tempat ibadah. Selama ini, ke mana saja dana CSR itu disalurkan?” kata Yusdi dengan nada kritis.

Harapan Yusdi pun sederhana namun penting: agar kejadian serupa tidak terulang. Ia mengusulkan agar perusahaan-perusahaan besar di Cilegon lebih banyak mengalokasikan dana CSR mereka untuk membantu tempat-tempat ibadah, khususnya dalam pembayaran tagihan listrik. “Jika dana CSR difokuskan untuk tempat ibadah, saya yakin tidak akan ada lagi masjid yang kesulitan membayar listrik,” tegas Yusdi.

Langkah konkret yang diambil Abah Sahruji ini menunjukkan bagaimana seorang tokoh masyarakat dapat berperan aktif dalam mengatasi masalah sosial, sekaligus mendorong kesadaran untuk memaksimalkan potensi CSR dalam mendukung kebutuhan masyarakat, terutama tempat ibadah. Ini adalah contoh nyata bagaimana kepedulian terhadap sesama dapat memberikan perubahan positif di tingkat lokal