CILEGON, WILIP.ID – Suara agar Provinsi Banten mendapat status Daerah Istimewa kian menggema. Tokoh Aktivis Banten, Mulyadi Sanusi, yang akrab disapa Cak Moel, menjadi salah satu tokoh yang lantang menyuarakan gagasan ini. Menurutnya, status istimewa bukan sekadar gelar kosong tanpa makna.
“Dengan keistimewaan, Banten bisa merumuskan kebijakan yang sesuai dengan wajah dan kebutuhan daerahnya,” kata Cak Moel, Minggu, 4 Mei 2025.
Ia menegaskan, status ini akan memberi Banten kewenangan lebih besar dalam mengurus rumah tangga sendiri, termasuk dalam bidang kebudayaan, ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan.
Bagi Cak Moel, otonomi yang lebih luas ini penting agar Banten tidak terus tertinggal dibanding daerah lain.
Isu Daerah Istimewa untuk Banten sebenarnya sudah lama bergulir, terutama dengan menguatnya kesadaran sejarah dan budaya lokal.
Banten dikenal sebagai wilayah dengan sejarah panjang, mulai dari Kesultanan Banten hingga perannya dalam sejarah perlawanan kolonial.
Bagi para pendukung status istimewa, warisan ini layak diakui dan diberi ruang lewat kebijakan yang lebih berpihak pada kearifan lokal.
Namun, desakan ini bukan tanpa tantangan. Sebagian kalangan menilai, penetapan Daerah Istimewa mesti disertai dengan kajian matang agar tak sekadar menjadi proyek simbolis.
Apalagi kata Cak Moel, pengalaman daerah-daerah lain menunjukkan bahwa status istimewa kerap memunculkan persoalan baru jika tidak dikelola dengan baik.
Meski demikian, Cak Moel optimistis. Menurut dia, dengan desain kebijakan yang tepat, keistimewaan akan menjadi jalan bagi Banten untuk melompat lebih jauh.
“Banten butuh panggung untuk menunjukkan jati dirinya, dan status istimewa bisa menjadi pintu masuknya,” ujarnya.
Seiring menguatnya dukungan dari berbagai pihak, bola kini bergulir ke tangan pemerintah pusat dan DPR. Pertanyaannya, apakah suara dari barat Jawa ini akan didengar?
(Red*)















