CILEGON, WILIP.ID – Suasana dini hari yang semestinya tenang dan menyegarkan berubah menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi sejumlah warga Ciwandan, Kota Cilegon, Banten. Pada Senin (19/5/2025) sekitar pukul 02.12 WIB, Ridwan, salah satu warga, mengaku merasakan udara yang tidak biasa saat melintas di dekat wilayah industri Ciwandan.
“Udara terasa berat dan menyesakkan. Tenggorokan terasa gatal, disusul sensasi panas yang menusuk. Bahkan air liur menjadi kental dan berbusa,” ungkap Ridwan kepada Wilip.id.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berlangsung cukup lama dan menyebabkan ketidaknyamanan yang serius. Ridwan bahkan harus kembali ke rumah lebih awal karena merasa tidak sanggup berlama-lama di luar ruangan.
Keluhan serupa mulai bermunculan di kalangan warga lainnya. Mereka menduga ada potensi pencemaran udara akibat aktivitas industri yang beroperasi di sekitar kawasan tersebut. Sebagai kawasan industri strategis di Provinsi Banten, Ciwandan memang menjadi rumah bagi berbagai sektor manufaktur dan pengolahan. Namun, warga menilai keberadaan industri tak seharusnya mengorbankan kualitas udara yang mereka hirup setiap hari.
Tanda-Tanda yang Mengkhawatirkan
Pernapasan yang terganggu, iritasi pada tenggorokan, dan aroma menyengat menjadi ciri utama yang dirasakan warga. Fenomena ini, menurut warga, bukan kali pertama terjadi—tetapi akhir-akhir ini intensitas dan dampaknya terasa semakin parah.
“Kalau malam itu, dari jam satu sampai jam empat, saya benar-benar gak kuat. Langsung masuk rumah,” ujar seorang warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Kekhawatiran juga muncul lantaran sumber polusi sulit diidentifikasi secara visual. Asap yang keluar dari cerobong pabrik memang terlihat, namun dalam gelap dan tanpa alat pemantau kualitas udara, sulit memastikan jenis zat yang terkandung di dalamnya.
Respons Pemerintah Daerah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri, saat dikonfirmasi, mengakui adanya aktivitas pabrik yang mungkin menjadi penyebab keluhan warga.
“Bisa saja itu limbah biasa, mungkin dari pembakaran. Tapi kalau sudah semakin parah, ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan pemantauan lebih lanjut dan menelusuri sumber gangguan udara tersebut.
Sabri juga mengakui adanya suara mesin yang terdengar dari salah satu pabrik di sekitar lokasi kejadian. Namun, ia menyebut masih perlu investigasi lebih mendalam karena dokumentasi yang tersedia sangat terbatas.
Urgensi Pengawasan dan Transparansi
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem pemantauan kualitas udara yang transparan dan bisa diakses publik. Pemerintah daerah bersama otoritas terkait perlu bergerak cepat, tidak hanya dalam pengawasan, tetapi juga edukasi kepada masyarakat mengenai dampak dan cara mitigasi polusi udara.
Karena pada akhirnya, kemajuan industri harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga kualitas lingkungan hidup. Pembangunan yang menyejahterakan adalah pembangunan yang tak mengabaikan hak dasar warga atas udara bersih.
Redaksi | Wilip.id















