CILEGON, WILIP.ID – Di tengah deru mesin industri dan kepulan asap cerobong pabrik di Kota Cilegon, ada satu bangunan yang justru menyimpan kesunyian—dan di sanalah denyut peradaban bergetar pelan: Perpustakaan Kota Cilegon.
Berlokasi di samping Puskesmas Ramanuju, perpustakaan ini berdiri tanpa plang mencolok, tanpa arsitektur megah. Tak banyak yang tahu, gedung itu dulunya bukan pusat literasi. Ia hanya rumah tinggal biasa. Pernah pula difungsikan sebagai garasi angkutan kota.
Namun dari ruang sempit dan gelap itu, semangat literasi di Kota Baja mulai tumbuh. “Karena awalnya memang rumah biasa, jadi ruang bacanya kurang representatif,” kata H. Ismatullah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Cilegon, saat ditemui Selasa (1/7/2025).
Babak Awal: Dari Rumah Sempit hingga Legalitas Resmi
Transformasi perpustakaan dimulai pada awal 2000-an, saat Tubagus Aat Syafaat menjabat sebagai Wali Kota. Pemerintah kala itu membeli lahan yang kini menjadi kompleks Puskesmas Ramanuju, Bappeda, dan ruang baca. Tapi hanya gedung arsip yang dibangun. Perpustakaan tetap ‘numpang’ di rumah bekas warga.
Legalitas baru hadir pada 2005 melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2005. Unit yang tadinya hanya bagian kecil dari Dinas Pendidikan akhirnya naik kelas menjadi Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD), lalu berubah lagi menjadi DPAD, dan kini resmi sebagai DPK Kota Cilegon.
Namun persoalan ruang belum juga tuntas. Gedung sempat berpindah dari rumah di Ramanuju ke bekas Puskesmas. Titik balik datang pada 2012, saat Wali Kota Imam Ariyadi meresmikan Gedung Dipo Arsip. Dari situlah layanan literasi mulai tertata.
Pernah Terbaik, Tapi Tak Lagi Cukup
Meski fasilitas terbatas, Perpustakaan Kota Cilegon pernah dinobatkan sebagai salah satu yang terbaik di Banten. Namun, waktu terus berjalan. Kota bertumbuh. Warga bertambah. Minat baca meningkat.
Gedung yang dulunya garasi mulai terasa sesak. Semangat membaca yang tumbuh di tengah kota industri itu kini butuh ruang baru untuk berkembang.
DPK pun mengajukan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) ke Perpustakaan Nasional. Proposal awal ditolak—desain dianggap belum memenuhi standar. Tapi perjuangan tak berhenti. Pada 2023, Cilegon masuk daftar tunggu. Harapan kembali terbit.
Babak Baru: Perpustakaan Modern di Tengah Kota
Kini, Pemkot tengah menyiapkan perpustakaan baru yang lebih layak. Rencananya akan dibangun di lahan strategis di belakang Cilegon Center Mall. Gedung ini tak sekadar ruang baca, tapi akan menjadi ruang publik yang modern dan inklusif.
Fasilitasnya dirancang lengkap: ruang ber-AC, WiFi cepat, ruang musik, pojok diskusi bergaya kafe, hingga koleksi kitab kuning untuk para santri. Sebuah konsep literasi yang memadukan kenyamanan dan kebutuhan komunitas.
“Ini bukan cuma soal bangunan. Ini soal memberi ruang bagi siapa pun untuk belajar, berpikir, dan tumbuh,” ujar Ismatullah.
Lebih dari Sekadar Rak Buku
Perpustakaan Kota Cilegon bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah saksi perjalanan kota ini—dari rumah tinggal menjadi rumah ilmu, dari garasi menjadi gerbang peradaban.
Dan kini, di tengah gegap gempita industri, Cilegon bersiap membuka bab baru: bahwa ada ruang untuk membaca, berdiskusi, dan bermimpi—tanpa harus meninggalkan akar sejarah dan semangat awalnya.
(Elisa/Red*)















