CILEGON, WILIP.ID – Sebuah pemandangan tak biasa terlihat di kediaman Deni Juweni, pria yang akrab disapa Abah Jen, Sejak diumumkannya perintah pengosongan lahan di Lingkungan Lapak pada 9 Juli lalu, warga yang terdampak justru datang silih berganti ke rumahnya—bukan untuk memprotes, melainkan untuk menerima uang kerohiman.
Total sebanyak 120 Kepala Keluarga (KK) secara sukarela mendatangi Abah Jen, yang bertindak sebagai penerima kuasa dari pemilik lahan, Ateng Setiana Soedjana. Tidak ada ketegangan. Tak tampak wajah-wajah marah. Yang terlihat justru ekspresi syukur dan lega dari warga.
“Alhamdulillah, mereka datang dengan kesadaran sendiri, tanpa paksaan. Semuanya berjalan baik,” ujar Abah Jen saat ditemui di kediamannya, Senin, 21 Juli 2025.
Mereka sadar, lahan yang telah bertahun-tahun ditempati untuk tempat tinggal maupun usaha itu bukanlah milik mereka. Kesadaran ini justru menjadi jembatan bagi proses pengosongan lahan yang damai dan manusiawi. Abah Jen menyambut mereka dengan tangan terbuka dan menyampaikan bantuan uang kerohiman sebagai bentuk empati.
“Baru kali ini saya merasa diperhatikan,” kata Julfah, salah satu warga penerima uang kerohiman. “Biasanya kalau ada penggusuran, ya langsung saja dibongkar. Tapi ini beda. Kami malah diberi uang, padahal kami tahu lahan itu bukan milik kami.”
Nominal uang kerohiman yang diterima warga bervariasi. Namun, semua mengaku terbantu. Tak sedikit yang merasa ini adalah perlakuan paling manusiawi yang pernah mereka terima dalam proses relokasi.
Langkah yang diambil Abah Jen ini menjadi semacam oase di tengah praktik relokasi yang kerap dibayangi konflik, penggusuran paksa, dan kriminalisasi warga. Di Lapak Sukmajaya, pendekatan kekeluargaan dan kesadaran hukum berjalan seiring.
“Sebagai warga kecil, kami sangat terbantu. Uang ini sangat berguna bagi kami untuk memulai hidup baru,” ujar salah seorang warga lainnya.
Pengosongan lahan memang sebuah keniscayaan. Tapi cara menghadapi kenyataan itu ternyata bisa berbeda. Di tangan orang seperti Abah Jen, penggusuran tak harus berujung tangisan.
(Elisa/Red*)















