CILEGON, WILIP.ID – Di sebuah halaman sederhana di Samangraya, Sabtu 27 September 2025 pagi itu, lantunan shalawat menggema. Anak-anak berbaris rapi, para wali murid duduk berderet, sementara ibu-ibu pengajian menyimak dengan wajah teduh. Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan Ibnu Nawawi terasa bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga penanda sebuah perjalanan panjang.
Yayasan yang berdiri lebih dari dua dekade lalu itu sejak awal memilih jalan sunyi: mendidik anak sejak usia dini. Melalui TK Tunas Bangsa, mereka merawat keyakinan bahwa membangun bangsa harus dimulai dari ruang kelas kecil, tempat anak belajar huruf-huruf pertama sekaligus nilai-nilai akhlak.
Zia Ulhaq, Ketua Yayasan yang juga menjabat Ketua HIPPI Kota Cilegon, membuka acara dengan bahasa sederhana namun hangat. Di sampingnya, sang pendiri yayasan, Hj. Nurlaila, M.Pd., menyampaikan pesan lebih dalam. Sebagai pejabat di Dinas Pendidikan, ia menekankan pentingnya menjadikan pendidikan anak usia dini sebagai fondasi. “Bukan hanya kecerdasan otak yang dibentuk, tetapi juga akhlak yang akan menentukan arah hidup mereka,” ujarnya.
Bagi masyarakat, acara Maulid ini menjadi titik temu. Para tokoh setempat, kaum ibu, hingga generasi muda, semua larut dalam suasana kekeluargaan. Tak ada sekat, tak ada jarak. Perayaan itu seperti mengingatkan bahwa teladan Nabi selalu hidup dalam kebersamaan, dalam kerja kecil yang konsisten.
Lebih dari 20 tahun sudah Yayasan Ibnu Nawawi hadir. Usia itu mungkin belum panjang bagi sejarah sebuah lembaga, tetapi cukup untuk menunjukkan konsistensi: mendidik, merawat, dan membimbing. Seperempat abad nyaris tercapai, dengan jejak anak-anak yang kini tumbuh menjadi bagian dari masyarakat Cilegon.
Bagi sebagian orang, Maulid adalah nostalgia spiritual. Namun di halaman yayasan itu, ia juga menjadi cermin bahwa masa depan umat dan bangsa akan bergantung pada bagaimana kita mendidik generasi sejak dini.
(Elisa/Red*)















