CILEGON, WILIP.ID – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Khairiyah Cilegon kembali meneguhkan diri sebagai kampus yang serius mencetak pendidik masa depan. Sabtu (27/9/2025), kampus tarbiyah yang dikenal sebagai salah satu pionir pendidikan Islam di Banten itu menggelar pembekalan intensif bagi guru pamong dan dosen pembimbing lapangan (DPL). Agenda ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan strategi kunci menyukseskan Program Praktik Pengalaman Lapangan Kependidikan (PPLK) 2025.
Berlokasi di Aula Meeting II STIT Al-Khairiyah, suasana acara terasa penuh antusiasme. Hadir langsung jajaran pimpinan kampus mulai dari Ketua STIT Al-Khairiyah H. Ahmad Munji, M.Pd., Wakil Ketua I Faizudin, M.Pd., Wakil Ketua II Hj. Nahdrotul Uyun, M.Pd., Kaprodi PAI Dr. Uun Kurnaesih, M.Si., hingga Kaprodi PIAUD Dr. Hj. Sholatul Hayati, M.Pd. Acara yang dipandu Nurdiyanto, M.Pd. itu menandai langkah besar kampus dalam menyiapkan lulusannya lebih siap terjun ke lapangan.
Materi utama disampaikan oleh Hj. Bahyati, M.Pd., Direktur Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STIT Al-Khairiyah. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kualitas calon guru hanya bisa dibentuk lewat sinergi nyata antara kampus dan sekolah mitra.
“Pengalaman lapangan bukan sekadar praktik mengajar. Di sana mahasiswa belajar membangun karakter, profesionalisme, sekaligus kemampuan adaptasi. Itulah modal utama calon guru masa depan,” ungkapnya.
147 Mahasiswa Diturunkan ke Sekolah Mitra
Tahun ini, ada 147 mahasiswa semester 7 yang akan terjun mengikuti PPLK. Mereka berasal dari dua program studi unggulan: Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).
Sekolah mitra yang menerima mahasiswa PPLK pun bukan sembarangan. Mulai dari MAN 2 Kota Cilegon, SMAN 5 Cilegon, SMAN 1 Mancak, SMKN 2 Cilegon, SMAN 1 Waringinkurung, SMKN 1 Kramatwatu, SMK YP Fatahillah 2, hingga SMA dan MA Al-Khairiyah, serta puluhan lembaga pendidikan lainnya di Cilegon dan Serang.
Ketua STIT Al-Khairiyah, H. Ahmad Munji, M.Pd., menekankan bahwa pembekalan ini adalah pijakan penting untuk menjaga kualitas lulusan.
“Kami tidak hanya ingin mahasiswa bisa mengajar, tapi juga menjadi guru yang kompeten, reflektif, dan adaptif. Semua ini bagian dari kontribusi STIT Al-Khairiyah untuk Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Praktik Mengajar
PPLK di STIT Al-Khairiyah tidak hanya dimaknai sebagai ajang uji coba kemampuan teknis di kelas. Lebih dari itu, program ini dirancang untuk membentuk guru yang berkarakter, inovatif, dan mampu membaca dinamika zaman.
Bagi kampus, keberhasilan PPLK diukur dari sejauh mana mahasiswa mampu menunjukkan integritas dan membangun hubungan sinergis dengan sekolah mitra. Dengan pendekatan ini, STIT Al-Khairiyah optimistis dapat melahirkan generasi guru profesional yang siap menjawab tantangan dunia pendidikan.
Dengan semangat kolaborasi, STIT Al-Khairiyah memperkuat posisinya sebagai kampus tarbiyah unggulan di Banten. Sebuah institusi yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menyiapkan guru yang akan menjadi garda depan kemajuan pendidikan Indonesia.
(Elisa/Red*)















