M. Ibrohim Aswadi; Golok Day, Denyut Tradisi di Tanah Baja Cilegon

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah gegap gempita industrialisasi, Kota Cilegon masih punya cara sendiri untuk menjaga napas budayanya. Festival Golok Day kembali digelar tahun ini, menjadi penanda bahwa di balik deru mesin dan bara baja, masih berdenyut kuat semangat leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Bagi M. Ibrohim Aswadi, pemilik Koperasi Konsumen Krakatau Baja Trikora, festival ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menyebutnya sebagai simbol perlawanan terhadap lupa—lupa pada akar, pada nilai, dan pada jati diri Cilegon sebagai kota yang tumbuh dari keberanian dan ketekunan warganya.

“Festival Golok Day adalah simbol menjaga kultur tanah Cilegon dari peradaban besar. Ini warisan leluhur yang harus terus digemakan, untuk mempersatukan semangat rakyat dalam membangun kota secara bersama-sama,” ujar Ibrohim, Kamis, 13 November 2025.

Koperasi yang ia pimpin bukan sekadar wadah ekonomi. Di bawah binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UMKM, serta Kadin Kota Cilegon, Trikora menjadi ruang kreatif bagi para pengrajin baja, kayu, dan plastik untuk melahirkan karya berkarakter: golok, pisau, hingga aneka kerajinan yang mencerminkan keuletan tangan-tangan lokal.

Menurut Teguh Pribadi, Fungsional Pembina Industri di Disperindag Kota Cilegon, pelaku IKM seperti Koperasi Trikora memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal sekaligus memperkuat ekonomi daerah.

“Festival Golok Day menjadi ruang sinergi antara tradisi dan industri. Para pengrajin logam lokal tidak hanya menjaga nilai-nilai budaya, tapi juga mengembangkan produk yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Teguh.

“Kami di Disperindag terus mendorong agar industri kecil dan menengah berbasis budaya seperti ini mendapat dukungan dan promosi berkelanjutan. Golok bukan sekadar warisan, tetapi juga ikon ekonomi kreatif Cilegon,” tambahnya.

Bagi Teguh, Golok Day adalah panggung kebanggaan warga Cilegon—di mana tradisi tak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan kembali melalui karya dan inovasi. Semangat itu juga yang terus dipegang para pengrajin, termasuk Ibrohim dan rekan-rekannya, yang tak pernah lelah menempa baja menjadi simbol keberanian dan jati diri kota.

Di antara riuh tepuk tangan dan denting musik tradisional, semangat itu terasa nyata. Festival Golok Day bukan sekadar panggung budaya—ia adalah cermin dari tekad masyarakat Cilegon untuk tetap berpijak pada akar sambil melangkah menuju masa depan yang lebih berdaya.

 

(Elisa/Red*)