CILEGON, WILIP.ID — Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tengah mematangkan persiapan pengoperasian gedung perpustakaan baru yang digadang-gadang akan menjadi ikon literasi modern di Kota Baja. Bangunan megah berlantai dua ini tidak sekadar menghadirkan rak buku, tetapi juga ekosistem literasi yang inklusif, digital, dan ramah semua kalangan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon, Dr. H. Ismatullah, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa seluruh tahapan persiapan dilakukan secara serius, baik dari sisi fisik gedung maupun kelengkapan sarana-prasarana.
“Gedung ini kami persiapkan tidak hanya sebagai tempat menyimpan buku, tetapi sebagai ruang peradaban. Kami ingin menghadirkan perpustakaan yang benar-benar hidup dan melayani masyarakat,” ujar Ismatullah, Kamis (29/1/2026).
Gedung perpustakaan baru ini berdiri di atas lahan hampir 4.000 meter persegi, dengan luas bangunan mencapai 1.600 meter persegi. Luasnya ruang justru membuka tantangan tersendiri.
Saat ribuan koleksi buku dipindahkan dari gedung lama, Ismatullah mengakui tampilan rak masih terlihat “kosong”.
“Jumlah koleksi kita saat ini sekitar 16 ribu eksemplar. Ketika masuk ke gedung sebesar ini, terasa masih kurang. Karena itu kami sedang menata ulang sekaligus mempersiapkan pengadaan agar tampilannya lebih representatif,” katanya.
Namun, keunggulan gedung ini bukan hanya pada skala fisiknya. Lebih dari itu, perpustakaan baru Cilegon dirancang sebagai ruang literasi masa depan.
Di lantai dasar, pengunjung akan menemukan layanan anak yang lebih representatif, lengkap dengan ruang bermain edukatif. Ada pula pojok pajak digital untuk membantu masyarakat mengakses layanan administrasi modern.
Tak kalah penting, tersedia layanan khusus bagi penyandang disabilitas, termasuk fasilitas visual dan audio yang dirancang agar semua orang dapat menikmati pengetahuan tanpa batas.
Salah satu terobosan yang menarik adalah Pojok Wanita Kota Cilegon. Ruang ini diperuntukkan khusus bagi ibu-ibu dan anak perempuan, sebagai ruang aman dan nyaman untuk membaca, berdiskusi, dan berinteraksi.
“Kami ingin memberikan penghormatan pada ruang perempuan. Ini terinspirasi dari konsep ruang khusus di pusat perbelanjaan. Di perpustakaan, perempuan juga perlu ruang yang nyaman dan tidak terganggu,” ujar Ismatullah.
Di lantai atas, pengunjung akan menemukan mini teater literasi. Ruang ini menjadi jantung inklusivitas, terutama bagi penyandang disabilitas.
“Orang tunanetra bisa mendengar, tunarungu bisa melihat, dan mereka yang kesulitan membaca bisa menyerap informasi dari visual dan audio. Mini teater ini menjadi jembatan literasi bagi semua,” jelasnya.
Tak hanya itu, tersedia pula ruang podcast yang akan dibuka bagi media dan komunitas literasi.
“Kami ingin media cetak dan elektronik bisa membedah buku di sini. Masyarakat tidak hanya membaca, tetapi juga bisa mendengarkan dan menonton. Literasi itu tidak melulu soal membuka halaman buku,” katanya.
Pendekatan ini menegaskan bahwa minat baca kini juga dapat tumbuh melalui konten audio-visual.
Gedung ini juga dilengkapi aula berkapasitas 70–100 orang untuk kegiatan diskusi, bedah buku, hingga pelatihan literasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat secara gratis.
Selain itu, Dinas Perpustakaan menyiapkan ruang konsultasi khusus bagi penulis dan komunitas literasi.
“Di sini nanti bisa konsultasi cara menulis, mengurus ISBN, mengubah skripsi jadi buku, atau menyusun biografi. Kami ingin penulis lokal punya rumah,” tutur Ismatullah.
Bahkan, disiapkan pula ruang laktasi bagi pengunjung yang membawa bayi, sebagai bagian dari konsep perpustakaan ramah keluarga.
Meski ditargetkan mulai digunakan Februari, operasional penuh gedung baru masih menunggu hasil pemantauan teknis dari Inspektorat selama tiga bulan. Selama masa transisi, layanan perpustakaan tetap berjalan di gedung lama dengan dukungan tiga unit mobil perpustakaan keliling (pusling).
“Satu mobil tetap beroperasi ke lapangan, dua unit siaga di lokasi lama. Masyarakat tetap kami layani tanpa jeda,” tegasnya.
Untuk sementara, gedung baru hanya akan digunakan secara terbatas dan privat, sembari menunggu kesiapan teknis penuh.
Dengan konsep modern, inklusif, dan berbasis teknologi, perpustakaan baru Kota Cilegon tak lagi sekadar tempat meminjam buku. Ia diproyeksikan menjadi pusat interaksi, kreativitas, dan peradaban literasi—sebuah ruang di mana pengetahuan tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar, dilihat, dan dirayakan bersama.
(Pis/Red*)















