CILEGON, WILIP.ID – Suasana penuh khidmat dan optimisme menyelimuti kegiatan tasyakuran dan doa bersama atas tercapainya kesepakatan akses jalan Pelabuhan Warnasari antara Pemerintah Kota Cilegon dan PT Krakatau Steel, Jumat (30/1/2026). Momentum ini dinilai sebagai babak baru dari perjuangan panjang menghadirkan pelabuhan strategis yang akan menjadi pengungkit ekonomi Kota Cilegon.
Acara yang dihadiri tokoh masyarakat, ulama, pelaku usaha, serta unsur pemerintah ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi penanda lahirnya harapan baru bagi masa depan pelabuhan dan industri maritim di Cilegon.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Cilegon, Mulyadi Sanusi atau yang akrab disapa Cak Moel, menyebut momentum ini sebagai buah dari kesabaran dan konsistensi perjuangan selama lebih dari dua dekade.
“Ini bukan kebetulan. Ini jalan Allah. Dari tahun 2000 sampai 2025 kita menunggu. Hari ini kita mulai melihat titik terang. Tanda-tanda kebangkitan Pelabuhan Warnasari sudah terlihat,” ujar Cak Moel.
Cak Moel mengungkapkan bahwa kesepakatan antara Wali Kota Cilegon dan PT Krakatau Steel akan kembali diperkuat dalam waktu dekat guna memastikan percepatan realisasi.
“Insya Allah akan ada penandatanganan kembali. Saya yakin tahun ini Pelabuhan Warnasari sudah bisa berfungsi. Ini bukan optimisme kosong, tapi hasil perhitungan dan kerja banyak pihak,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan ini lahir dari sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat yang secara konsisten mendorong terwujudnya pelabuhan sebagai tulang punggung baru ekonomi Cilegon.
Menanggapi berbagai kritik publik, mulai dari soal RDTR hingga sikap sejumlah NGO, Cak Moel menilai dinamika tersebut justru memperkuat fondasi pembangunan.
“Perbedaan pendapat itu sehat. Justru itu membuat pondasi pelabuhan ini kokoh dan berkeadilan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pers yang kritis.
“Media yang kritis itu penting. Lebih baik dikritik oleh orang yang punya visi daripada dipuji oleh orang yang menjerumuskan,” katanya.
KADIN Cilegon, kata Cak Moel, siap mengonsolidasikan berbagai asosiasi pengusaha—mulai dari HIPMI, HIPPI, GAPENSI, hingga organisasi profesi—agar keterlibatan pelaku usaha lokal dalam pengembangan pelabuhan semakin kuat.
“Kalau kita tidak bersatu, yang untung justru pihak luar. Tapi kalau pengusaha, pemerintah, dan masyarakat Cilegon bersatu, pelabuhan ini akan menjadi mesin kemakmuran daerah,” tegasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Daerah II Kota Cilegon, Tunggul Fernando, menegaskan bahwa pembangunan Pelabuhan Warnasari tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.
“Kami di pemerintah ini sejatinya hanya penghubung. Bedanya kami digaji. Tapi pembangunan ini adalah tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
Ia menyebut tasyakuran yang digagas masyarakat dan pengusaha menjadi simbol bahwa pelabuhan merupakan harapan kolektif warga Cilegon.
Tunggul mengakui, MoU akses jalan Pelabuhan Warnasari yang baru ditandatangani merupakan yang ketiga sejak 2012. Karena itu, wajar jika publik kritis.
“Justru karena ini MoU ketiga, kita harus membuktikan bahwa kali ini benar-benar menjadi awal realisasi,” katanya.
Lebih jauh, Tunggul menjelaskan bahwa pelabuhan memiliki arti strategis bagi masa depan fiskal daerah. Di tengah keterbatasan sumber pajak konvensional, pelabuhan menjadi sumber pertumbuhan PAD baru.
“Target PAD kita Rp1,5 triliun pada 2027. Pelabuhan ini adalah salah satu kuncinya,” ungkapnya.
Saat ini PAD Kota Cilegon berada di kisaran Rp800–900 miliar dan baru beberapa tahun terakhir mampu menembus Rp1 triliun.
Tasyakuran dan doa bersama ini menjadi simbol bahwa perjuangan panjang membuka akses Pelabuhan Warnasari kini memasuki fase baru. Dengan terwujudnya jalan akses, Cilegon diharapkan memiliki pelabuhan yang tidak hanya melayani industri besar, tetapi juga membuka ruang tumbuh bagi pelaku usaha lokal.
“Semoga semua yang disepakati nanti benar-benar menjadi win-win solution. Tidak ada yang dirugikan. Semua menang,” pungkas Cak Moel.
Dengan doa, kolaborasi, dan keberanian keluar dari zona nyaman, Pelabuhan Warnasari diharapkan segera bertransformasi menjadi motor baru kedaulatan ekonomi Kota Cilegon.
(Has/Red*)















