FHAI Al-Khairiyah Gelar Lomba Pelajar se-Banten, Bukan Sekadar Kompetisi tapi Panggung Bangun Mental Juara

CILEGON, WILIP.ID — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Fakultas Hukum dan Agama Islam (FHAI) Universitas Al-Khairiyah dengan cara yang tak biasa. Bukan sekadar seremoni, kampus ini justru “turun gelanggang” membangun ekosistem pelajar melalui ajang lomba tingkat SLTA se-Provinsi Banten.

Digelar Sabtu, 2 Mei 2026 di lingkungan kampus, kegiatan ini diikuti 63 pelajar dari berbagai sekolah dan pesantren di Cilegon, Serang, Tangerang, hingga Lebak. Suasananya jauh dari kaku—lebih menyerupai festival ide, keberanian, dan adu kapasitas generasi muda.

Di balik panggung lomba, terselip agenda yang lebih besar: membangun jejaring pendidikan lintas daerah sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai simpul kolaborasi.

Beragam cabang lomba dipertandingkan. Mulai dari pidato bahasa Arab, English speech, storytelling, hingga cabang religius seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK). Di setiap sesi, peserta tak hanya dituntut piawai secara teknis, tetapi juga diuji mentalnya—berdiri di depan publik, menyampaikan gagasan, dan mengelola rasa gugup.

Rektor Universitas Al-Khairiyah menegaskan, esensi lomba bukan semata soal menang atau kalah. Ada dimensi psikologis yang lebih dalam: keberanian melampaui batas diri.

“Semua pelajar adalah juara. Mereka yang berani tampil sudah menang—karena mampu mengalahkan rasa takutnya sendiri,” ujarnya, menekankan bahwa mentalitas kompetitif harus dibangun sejak dini.

Nada serupa disampaikan Dekan FHAI. Ia menyebut ajang ini sebagai strategi ganda: memperkenalkan fakultas sekaligus mempererat hubungan dengan sekolah dan pesantren di Banten.

Menurutnya, kampus tidak bisa lagi berdiri eksklusif. Harus ada interaksi aktif dengan calon mahasiswa sejak di bangku sekolah. “Ini bukan sekadar lomba. Ini pintu silaturahmi dan pengenalan kampus kepada generasi berikutnya,” katanya.

FHAI sendiri saat ini mengembangkan tiga program studi unggulan: Tadris Bahasa Inggris, Hukum Keluarga Islam, dan Hukum Bisnis. Tiga bidang ini diposisikan sebagai jawaban atas kebutuhan zaman—menggabungkan kompetensi bahasa, pemahaman hukum, dan relevansi dunia kerja.

Yang menarik, kegiatan ini juga mencerminkan pergeseran paradigma pendidikan. Bahwa keberhasilan pelajar tak lagi diukur dari nilai akademik semata, melainkan juga dari kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan kecerdasan sosial.

Di tengah derasnya arus kompetisi global, ajang seperti ini menjadi “laboratorium mini” bagi pelajar untuk mengasah soft skill—sesuatu yang kerap luput dari ruang kelas formal.

Hardiknas tahun ini pun terasa lebih kontekstual. Bukan sekadar mengenang sejarah pendidikan nasional, tetapi menjadi ruang aktualisasi bagi generasi muda untuk menunjukkan bahwa mereka siap bersaing—bukan hanya di atas kertas, tapi juga di panggung nyata.

Jika konsisten digelar, kegiatan semacam ini bukan mustahil menjadi magnet baru pendidikan di Banten. Bukan hanya melahirkan juara lomba, tetapi juga membentuk karakter pelajar yang berani, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

(Has/Red*)