Mang Wayut
Kalau sebelumnya di Babak 1 Aflahul Aziz “ngajarin” Wali Kota cara menggali potensi PAD dengan solusi kantung parkir di JLS nilai skornya *Aziz 1 : 0 Wali Kota*.
Kali ini, Aziz “mempermalukan” Wali Kota dengan mengirim bantuan 12.000 liter air bersih ke warga Kecamatan Pulo Merak, Senin 20 Juli 2026. Maka *skor Aziz naik jadi “2” : Wali Kota tetep “0”*.
Warga terdampak kekeringan di Gunung Batur 1, Gunung Batur 2, Kampung Tembulan, hampir setiap tahun mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau.
Penyebabnya belum ada jaringan distribusi air bersih maupun kurangnya penampungan, atau ketersediaan sumur dalam di area tersebut.
Ini sih bukan bencana. Ini murni kelalaian perencanaan dari Pemkot.
*APBD SEJUMLAH 126,4 MILIAR ADA, KOK MALAH RAKYATNYA DIBIARIN KEHAUSAN?*
Anggota DPRD Rahmatulloh sering berteriak lantang: _”Ini pola berulang, kegagalan sistemik Dinas PUPR.”_
Bukti di lapangan di Kecamatan Pulo Merak kekeringan hampir setiap tahunnya. Padahal tiap tahun ada SiLPA anggaran. Artinya, tiap tahun ada warga kehausan, uangnya ada, tapi gak pernah ketemu solusinya.
Capaian Kinerja untuk Tahun 2026 saja SiLPA melonjak 410,97% dari Rp24,7 miliar menjadi Rp126,4 miliar. Dinas PUPR diduga jadi kontributor utama.
Gimana sih Wali Kota ngatur tata kelola pemerintahannya? Uang rakyat Rp126,4 Miliar dibiarin *”tidur di bank”*, sementara warga Pulomerak kekeringan nunggu air datang. Dan yang bikin gak habis pikir, pola ini terjadi setiap tahunnya.
SiLPA Rp126,4 M itu bisa bikin:
– 20 Sumur Bor Dalam
– 50 Tandon
– Perluasan jaringan pipa PDAM Pulomerak.
Tapi semua uang itu dibiarkan ngendap. Alasannya klasik: _DED telat, lelang telat, gak terserap karena melampaui tahun anggaran, dan sebagainya_.
Sementara Aflahul Aziz bersama Karang-Tarunanya harus turun tangan pake dana terbatas.
NEGARA ABSEN, PEMUDA TURUN
Poin penting berita di atas: Karang Taruna turun membantu masyarakat sebagai bentuk gotong-royong pemuda. Tapi juga sebagai tamparan untuk Pemkot yang pegang APBD. Seharusnya yang mastiin ketersediaan air bersih kan harusnya dia ya.
_”Kami aja yang cuma organisasi kepemudaan bisa ngumpulin 12 ribu liter, masa ita sih Pemkot gak bisa bangun jaringan pipa selama ini?”_ Gitu kira-kira tampolan Aziz.
_”Ini merupakan bentuk kepedulian organisasi kepemudaan terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan,”_ kata Aziz.
Kalo diterjemahin artinya kira-kira begini: *Kami hadir karena ada yang kekurangan*.
Tapi lanjutan yang paling nusuk kalimat selanjutnya: _”Pemerintah Kota segera dong menyiapkan solusi jangka panjangnya…”_
Artinya: *Bantuan air ini cuma obat sementara. Pemkot jangan enak-enakan kalian. Selesaikan akar permasalahannya*.
3 TUNTUTAN KE PEMKOT SETELAH AKSI KARANG TARUNA INI
1. *Jangka Pendek:* Backup terus distribusi air via BPBD atau PDAM sampai musim hujan
2. *Jangka Menengah:* Bangun sumur bor dan tandon penampungan di 3 titik itu (Gunung Batur 1, Gunung Batur 2, dan Tembulun).
3. *Jangka Panjang:* Perluas jaringan PDAM ke Pulomerak. Jangan nunggu viral dulu baru bergerak.
PENUTUP
Cilegon ini gak kekurangan uang. Cilegon kekurangan orang yang berani merencanakan dan membelanjakan uang untuk kepentingan rakyat.
Logikanya gini: kalau Karang Taruna aja bisa nyari 12rb liter air dengan tenaga dan sumbangan sukarela dari anggotanya… Seharusnya Dinas PUPR dengan anggaran triliunan ditambah SiLPA 126,4M bisa bikin Kecamatan Pulo Merak gak kekeringan lagi.
Tinggal berapa M yang dialokasikan khusus buat atasi kekeringan Pulomerak di APBD 2027?
Buat Ke Wali Kota: _”Pak, mau nunggu Karang Taruna bagiin air tiap tahun, atau mau bangun infrastrukturnya sekali tuntas?”_
Kalau tahun depan SiLPA masih 100M lebih dan warga masih antri air, tegas dong Pak, siapa yang harus Bapak pecat?
Semongko















