Oleh: Muchsin Mansyur
Indonesia bukan sekadar daratan yang dikelilingi lautan. Sebaliknya, Indonesia adalah negara maritim yang terdiri atas hamparan lautan luas dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Kesadaran inilah yang menjadi inti dari filosofi maritim Ir. Soekarno.
Sebagai Proklamator sekaligus Bapak Bangsa, Soekarno meyakini bahwa takdir geopolitik, kebudayaan, dan masa depan Indonesia bertumpu pada kekuatan maritim. Laut bukan hanya ruang geografis, melainkan sumber kehidupan, pemersatu bangsa, sekaligus simbol kedaulatan negara.
1. Reorientasi Kesadaran: Dari Jiwa Agraris Menuju Kebangkitan Jiwa Bahari
Selama berabad-abad masa kolonialisme, bangsa Indonesia secara sistematis dijauhkan dari laut. Penjajahan Eropa mengubah orientasi Nusantara yang sebelumnya dikenal sebagai peradaban maritim besar—seperti Sriwijaya dan Majapahit—menjadi masyarakat yang lebih berorientasi pada daratan. Akibatnya, karakter bahari bangsa perlahan memudar.
Dalam pandangan Soekarno, mengembalikan kedaulatan Indonesia berarti membangkitkan kembali kesadaran bahari. Laut tidak boleh dipandang sebagai pemisah antarpulau, melainkan sebagai perekat yang menyatukan seluruh wilayah Nusantara dalam satu kesatuan Tanah Air.
“Usahakanlah agar kita menjadi bangsa yang kembali bertenaga bahari. Bangsa yang melayari lautan, memegang kemudi di samudera sendiri. Bangsa maritim yang tidak hanya hidup dari hasil tanah, tetapi juga menguasai lautan.”
Ir. Soekarno, Musyawarah Nasional Bahari (1963)
Bagi Soekarno, bangsa yang besar bukan hanya mampu mengolah daratan, tetapi juga memiliki keberanian menguasai samudera sebagai ruang hidup dan ruang perjuangan.
2. Wawasan Nusantara dan Kedaulatan Geopolitik
Filosofi maritim Soekarno mencapai puncaknya melalui gagasan geopolitik yang revolusioner. Pada awal kemerdekaan, Indonesia masih terikat oleh aturan kolonial Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie Tahun 1939 yang menetapkan batas laut teritorial hanya tiga mil laut dari garis pantai setiap pulau.
Konsekuensinya, perairan di antara pulau-pulau Indonesia dianggap sebagai laut internasional. Kondisi tersebut berpotensi mengancam keutuhan wilayah serta kedaulatan negara.
Berlandaskan gagasan Soekarno mengenai kesatuan Tanah Air, lahirlah Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Deklarasi ini menegaskan bahwa seluruh perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Konsep tersebut kemudian menjadi tonggak lahirnya pengakuan internasional terhadap Indonesia sebagai Negara Kepulauan (Archipelagic State) serta menjadi fondasi penting dalam hukum laut internasional.
Pilar Utama Filosofi Maritim Soekarno
– Laut sebagai Pemersatu. Laut bukan penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan seluruh wilayah Nusantara.
– Kemandirian Ekonomi Bahari. Kekayaan laut harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat tanpa ketergantungan pada pihak asing.
– Ketahanan Nasional Maritim. Indonesia harus memiliki kekuatan armada laut yang tangguh guna menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
– Karakter Bangsa Pelaut. Membangun mentalitas masyarakat yang berani, tangguh, dinamis, inovatif, serta berpandangan luas layaknya samudera.
3. Relevansi bagi Indonesia Masa Kini dan Masa Depan
Pemikiran maritim Soekarno tetap relevan hingga saat ini. Gagasan tentang Indonesia sebagai poros maritim tidak akan pernah terwujud tanpa menghidupkan kembali semangat dan cara berpikir bahari yang diwariskan oleh sang Proklamator.
Laut merupakan masa depan Indonesia. Melupakan laut berarti mengingkari jati diri bangsa yang sejak awal lahir sebagai bangsa pelaut dan bangsa maritim.
Melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi kelautan, industri maritim, pertahanan, serta pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, Indonesia tidak hanya menghormati warisan para leluhur, tetapi juga mewujudkan cita-cita besar Soekarno: menjadikan Indonesia sebagai mercusuar dunia, bangsa yang berdaulat di laut, berdikari dalam ekonomi, dan disegani dalam pergaulan internasional.
Filosofi maritim Soekarno pada hakikatnya bukan sekadar gagasan tentang lautan. Ia merupakan visi peradaban yang menempatkan laut sebagai identitas, kekuatan, dan masa depan bangsa Indonesia.















