Mang Wayut
Setelah sebelumnya, Banggar DPRD (Rahmatulloh yang paling rajin di media) selalu ngingetin Pemkot agar serius kalo nyusun prognosis realisasi APBD 2026.
Kali ini Aflahul Aziz yang juga Anggota Banggar bersuara kenceng: “Jangan pake kacamata kuda dong! Prognosis harus objektif, akurat, dan harus sesuai Permendagri No.77/2020. Karena itulah dasar perencanaan APBD 2027!”
Jika prognosis tidak menggambarkan kondisi nyata, target pendapatan bisa terlalu optimistis sehingga menimbulkan defisit dan mengganggu pelayanan publik.
Banggar meminta TAPD menjelaskan metode prognosis, dasar target pendapatan 2027, dan kaitannya dengan Perubahan RKPD serta KUA-PPAS 2027.
Apa Sih Prognosis itu? Kok Penting Banget?
Prognosis Itu adalah perkiraan pemasukan dan pengeluaran daerah kita sampai akhir 2026.
Tujuannya biar tau kondisi keuangan beneran sebelum bikin anggaran 2027.
Kenapa penting banget?
Ya penting lah karena:
1. Buat ngitung ruang fiskal uang yang bisa dipake buat program baru;
2. Buat nentuin target pendapatan 2027 biar realistis;
3. Buat ngukur efektifitas belanja dan kemampuan bayar utang atau proyek.
Kalau salah hitung? Bahaya! APBD 2027 bisa terlalu optimis. Ujungnya: program dipangkas, layanan publik terganggu, atau terjadi defisit.
Kisah Samlawi dan Istrinya
Ibaratnya gini kira-kira. Samlawi ngasih uang dapur bulanan 5 juta ke istrinya. Samlawi minta dong perkiraan satu bulan ke depan rencana pemakaian uang tersebut ke istrinya.
Istrinya ngitung: “4 juta buat beli beras, sayur dan lauk. 3 juta buat ongkos dan jajan anak sekolah. 2 juta untuk bensin dan rokok Kang Sam, 1 juta buat dana cadangan kalo ada apa-apa.”
Samlawi bingung: “Sire kien keperipen ngitunge sih Nong? Yang saya kasih kan 5 juta… Perkiraan yang kamu buat malah 10 juta…”
Istrinya menjawab: “Lha sape weruh engko Kang Sam oleh picis maning. Siapa tau Pak Wali nanti ngasih 3 juta, Pak Wakil 2 juta… Kan ditotal jadi 10 juta.”
Gitu kira-kira.















