Kang Nasir: Merawat Cilegon dengan Pena

Oleh: Mang Wayut

Ada yang mencintai kampung halaman lewat panggung dan jabatan; disorot lampu, diabadikan tepuk tangan. Ada pula yang memilihnya lewat jalan yang jauh lebih sunyi: merangkai kata demi kata, sabar dan tak tergesa, sembari percaya bahwa sebuah tulisan sederhana bisa hidup lebih lama daripada kenangan yang perlahan pudar dimakan waktu.

Kang Nasir adalah orang Cilegon yang memilih jalan itu. Dua bukunya, Catatan dari Cilegon dan Cilegon di Persimpangan,bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah catatan kolektif tentang sebuah kota industri yang terus-menerus mencari jati dirinya, di antara asap pabrik dan gemuruh perubahan zaman.

Lahir dengan nama Mochammad Nasir di Cilegon, 30 Maret 1960, ia dikenal luas sebagai Kompasianer dengan nama akun “Kang Nasir”. Suara yang konsisten mengabarkan denyut sosial-politik dan kultural Cilegon serta Banten, tanpa jeda, tanpa lelah.

Catatan dari Cilegon, terbit 25 April 2016. Buku setebal 178 halaman ini adalah rangkuman gagasannya yang lahir dari tulisan-tulisannya di Kompasiana. Dilengkapi kata pengantar Wali Kota Cilegon kala itu Tb Iman Aryadi memaklumatkan sebuah pengakuan bahwa suara dari luar lingkar kekuasaan pun layak didengar.

Buku keduanya, Cilegon di Persimpangan, hadir sebagai refleksi kritis atas jalan yang telah ditempuh pemerintahan sebelumnya, sekaligus menjadi penanda sebuah persimpangan baru pasca terpilihnya Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Robinsar–Fajar Hadi Prabowo.

Di luar buku-bukunya, Kang Nasir juga menyusuri lorong sejarah dengan menulis kronik Pemberontakan Petani Banten 1888, sembari tetap menajamkan pena pada isu-isu hari ini: APBD, politik lokal, dan denyut nadi Cilegon yang tak pernah benar-benar diam.

SHOLAT DI “RUANG DOA”

Namun ada satu esai yang berdiri berbeda dari yang biasa ia tulis di Kompasianam. Bukan tentang kebijakan atau sejarah, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih personal: perjalanan batinnya sendiri.

Kang Nasir bertutur tentang malam ia menjenguk sang mertua di sebuah rumah sakit. Di antara selang infus dan bau obat yang menyengat, ia membisikkan doa ke telinga yang mungkin tak lagi mendengar dunia. Namun ia percaya: jiwa tak pernah benar-benar tertidur.

Usai sholat, matanya menangkap sebuah tulisan di dinding: sepenggal ayat Injil, Matius 6:33.

Seketika, kepastian yang tadi ia genggam runtuh begitu saja. Sahkah sujud saya? Bolehkah seorang Muslim bersimpuh di ruang yang menyimpan firman agama lain?

Dalam kesunyian itu, batinnya berdialog: siapa sebenarnya yang sedang ia sembah? Tembok itu? Atau Dia yang tak pernah butuh tembok untuk hadir?

Kita sering mengira iman itu seperti pagar; semakin tinggi dan rapat, semakin terasa aman. Padahal barangkali iman yang matang justru sebaliknya: ia berani berdiri di ruang yang batasnya kabur, dan tetap yakin bahwa Tuhan tak pernah bersembunyi di balik satu simbol saja.

Lewat esai kecil itu, Kang Nasir menggelitik sesuatu yang lebih dalam dari sekadar nostalgia atau politik lokal, ia menitipkan sebuah pertanyaan yang sengaja dibiarkannya tak selesai.

Dan mungkin, begitulah wajah spiritualitas yang hidup. Bukan pada saat kita menemukan jawaban yang menenangkan, melainkan pada saat kita berani terus hidup berdampingan dengan pertanyaan yang menggelisahkan.

(Red*)