Ironi Berlapis : Gerindra Kuat Secara Nasional, Keok Di Cilegon

Mang Wayut

Survei SMRC Juli 2026 baru saja mengumumkan kabar gembira untuk Gerindra: elektabilitas nasional melesat ke 16,9 persen, naik 3,7 poin dari hasil Pileg 2024 yang cuma 13,2 persen. Gerindra kini jadi partai nomor satu, menggeser PDIP (11,7 persen) dan Golkar (9,6 persen) yang justru sama-sama anjlok.

Di level nasional, Gerindra sedang pesta kembang api. Tapi di Cilegon, sepertinya pesta belum sampai. Atau mungkin lampunya keburu padam duluan sebelum pesta dimulai.

ANOMALI GERINDRA CILEGON: RAJA LOKAL YANG KEHILANGAN MAHKOTA

Coba bayangkan seorang ketua partai yang juga mantan wali kota, punya tujuh kursi DPRD, jaringan sampai ke kelurahan, dan restu langsung dari Prabowo. Di atas kertas, ini bukan kandidat biasa, ini semestinya juara bertahan.

Tapi kotak suara punya seleranya sendiri.

Di Pilwalkot 2024, Helldy-Alawi cuma mengantongi 68.371 suara alias 28,06 persen. Robinsar-Fajar melenggang dengan 123.196 suara, 50,56 persen. Selisihnya 54.825 suara. Ini bukan kekalahan tipis yang bisa diselipkan di laporan tahunan, ini lebih mirip alarm kebakaran yang dibunyikan tengah malam.

Anehnya, drama ini terjadi juga di panggung yang lebih besar. Andra Soni-Dimyati, yang membawa nama besar Prabowo, menang telak di Banten dengan 55,88 persen. Tapi begitu masuk wilayah Cilegon, yang walikotanya ketua DPC-nya, mereka malah kalah dari Airin-Ade. Ibarat jagoan kampung yang jago tarung di kota sebelah, tapi ditantang tetangga sendiri malah keok.

PENGURUS HANYA AKTIF SAAT FOTO BERSAMA, SUARA PUN MENGUAP

Nah, di titik inilah paradoks Gerindra Cilegon mulai kelihatan lucu sekaligus getir: partainya punya segalanya; kursi, figur, koalisi, restu pusat, tapi semua itu ternyata cuma pajangan di etalase. Kursi DPRD hanya bukti kekuatan formal. Yang benar-benar bicara adalah hasil Pilkada, dan hasil itu bilang: rakyat belum percaya.

Koalisi pun ternyata bukan jaminan. Di ruang rapat elite, dukungan bisa ditandatangani dalam semalam. Tapi di lapangan, kalau PAC dan ranting cuma aktif saat ada sesi foto bersama, ya jangan kaget suara ikut menguap. Partai jadi ramai di kertas, sunyi di TPS.

Begitu juga soal 1.026 pengurus partai dari mulai DPC sampai tingkat ranting yang sering dibanggakan. Angka itu modal awal, bukan bukti cinta. Loyalitas politik tidak lahir dari daftar nama di database, ia lahir dari siapa yang datang duluan waktu banjir melanda atau ketika harga sembako naik.

Golkar, di sisi lain, sepertinya lebih paham medan permainan ini. Cilegon bukan cuma soal siapa berkuasa, tapi jaringan lama, industri, birokrasi, dan hubungan antar-elite yang dirawat bertahun-tahun bukan hanya didekati menjelang pencoblosan saja.

Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi “apakah Helldy masih berpengaruh”. Pertanyaannya lebih tajam: apakah ia masih figur terbaik untuk memimpin konsolidasi, setelah kandidat yang ia usung adalah dirinya sendiri, dan kalah 54.825 suara?

SEBUAH NASIHAT UNTUK PARTAI YANG PEMIMPINNYA KALAH

Partai yang pemimpinnya kalah sebesar itu, harusnya menganggap evaluasi sebagai vitamin, bukan ancaman. Mengganti ketua DPC bukan berarti menghapus jasa Helldy, bukan juga tanda tak tahu terima kasih. Ia tetap bisa jadi senior atau penasihat. Tapi kursi ketua sebaiknya diisi sosok yang bisa memperluas basis, bukan sekadar melanjutkan status quo yang sudah terbukti keok.

Selisih kursi DPRD dengan Golkar sebenarnya tipis. Masih ada peluang. Tapi peluang itu cuma terbuka kalau tiga hal dibenahi: akar rumput diperkuat, figur baru yang lebih diterima lintas kelompok dimunculkan, dan dukungan nasional diterjemahkan jadi program konkret: lapangan kerja, dampak industri, transportasi, pesisir, sampai biaya hidup.

Kalau tidak, ya sudah lah. Gerindra akan terus jadi partai besar di ruang sidang, tapi kecil di bilik suara. Mahkota Golkar tidak akan runtuh sendiri hanya gara-gara selisih satu kursi. Ia baru bisa direbut kalau Gerindra berani mengubah cara kerja dan kalau perlu, berani mengubah siapa yang pegang kemudi.

(Red*)