CILEGON, WILIP.ID – Sebuah tembok tua peninggalan kolonial Belanda yang berada di kawasan rumah dinas Wali Kota Cilegon dilaporkan rubuh di tengah cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kota Cilegon pada bulan suci Ramadan. Runtuhnya bangunan bersejarah itu sontak menjadi perhatian publik karena diyakini merupakan bagian dari peninggalan era kolonial yang telah berdiri ratusan tahun.
Informasi mengenai peristiwa tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Cilegon, Ismatullah, melalui akun Facebook pribadinya, Ismatullah Syihabudin, Senin 9 Maret 2026.
Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa tembok eks tangsi Belanda yang berada di area rumah dinas wali kota itu memiliki konstruksi yang sangat tebal, mencapai sekitar setengah meter dengan tinggi sekitar tiga meter. Bangunan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu jejak fisik peninggalan kolonial di Kota Cilegon.
“Bangunan pagar yang tebalnya setengah meter dengan ketinggian mencapai tiga meter, berdiri kokoh hampir 400 tahun lebih, akhirnya hancur lebur berantakan oleh cuaca ekstrem yang terjadi saat ini,” tulis Ismatullah dalam unggahannya.
Ia menduga keruntuhan tembok tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor. Selain usia bangunan yang sudah sangat tua, struktur konstruksi lama yang menggunakan material batu bata, pasir, dan kapur dinilai rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Tak hanya itu, keberadaan akar pohon yang tumbuh di sekitar area bangunan juga diduga turut merusak fondasi tembok hingga akhirnya mempercepat proses keruntuhan.
Menurut Ismatullah, material bangunan yang tersisa sebaiknya tidak langsung dibuang. Ia menilai batu bata dari tembok tersebut memiliki nilai historis yang penting dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan kajian arkeologi maupun penelitian sejarah.
“Sebagai cagar budaya, sebaiknya batu batanya tidak dibuang untuk dijadikan bahan riset purbakala,” ujarnya.
Kawasan rumah dinas Wali Kota Cilegon memang memiliki catatan sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kolonial Belanda. Pada masa itu, wilayah tersebut diketahui pernah menjadi lokasi rumah dinas pejabat kolonial yang bertugas di Cilegon.
Salah satu tokoh penting yang tercatat dalam sejarah adalah Johan Hendrik Hubert Gubbels, pejabat kolonial yang menjabat sebagai Asisten Residen Cilegon.
Nama Gubbels menjadi bagian dari peristiwa besar dalam sejarah Banten, yakni Geger Cilegon 1888. Dalam peristiwa pemberontakan rakyat Banten yang dipimpin oleh Ki Wasyid itu, Gubbels dieksekusi oleh massa pejuang yang bangkit melawan pemerintahan kolonial Belanda.
Selain Gubbels, sejumlah pejabat kolonial lainnya juga tercatat dalam arsip sejarah yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, di antaranya Letnan Satu Van de Star yang memimpin pasukan Hindia Belanda dalam operasi penumpasan pemberontakan, serta Kapten A.A. Veen Huyzen dan Ulrich Bachet yang disebut dalam dokumen militer kolonial.
Secara historis, rumah dinas Asisten Residen Gubbels diyakini berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Wali Kota Cilegon. Karena itu, keberadaan tembok tangsi Belanda tersebut selama ini dianggap sebagai salah satu sisa peninggalan sejarah yang masih bertahan di kota industri tersebut.
Seiring waktu, kawasan yang dulunya menjadi simbol kekuasaan kolonial itu kini menjadi bagian dari pusat pemerintahan Kota Cilegon. Rumah dinas tersebut telah ditempati oleh sejumlah wali kota sejak berdirinya pemerintahan Kota Cilegon.
Di antaranya H. Tb. Aat Syafa’at, S.Sos., M.Si, Dr. H. Tb. Iman Ariyadi, S.Ag., M.Si, Drs. H. Edi Ariadi, M.Si, H. Helldy Agustian, SH., MH, hingga wali kota saat ini, H. Robinsar.
Runtuhnya tembok eks tangsi Belanda ini menjadi pengingat bahwa jejak sejarah di Kota Cilegon masih tersimpan di berbagai sudut kota. Di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri, peninggalan masa lalu seperti ini menyimpan nilai historis yang tak hanya penting bagi penelitian, tetapi juga bagi identitas sejarah Cilegon itu sendiri.
(Has/Red*)















