Cilegon Menuju Kota Industri Modern, Tanpa Kehilangan Wajah Budaya

CILEGON, WILIP.ID – Usia ke-26 bukan sekadar angka bagi Kota Cilegon. Dalam momen peringatan hari jadi tahun ini, Wali Kota Robinsar menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar pidato seremoni. Ia bicara soal arah masa depan: transformasi industri, pembangunan infrastruktur, dan semangat bersaing di panggung global. Namun di tengah gagasan besar itu, satu hal tak boleh dilupakan—identitas budaya.

“Cilegon harus menjadi pusat industri modern yang kompetitif di tingkat global,” kata Robinsar. Di tengah derasnya arus investasi dan pembangunan, Robinsar menekankan bahwa mimpi menjadi kota industri tak boleh dibayar dengan lunturnya jati diri. “Kita boleh membangun, tapi jangan sampai identitas budaya kita hilang.”

Pernyataan itu bukan basa-basi. Sebagai kota industri di barat Banten, Cilegon telah menjadi magnet bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi pertumbuhan yang mengabaikan akar budaya, kata Robinsar, hanya akan menciptakan kota tanpa wajah.

“Budaya adalah fondasi. Ia yang membentuk karakter, dan memberi kita rasa memiliki terhadap kota ini,” ujarnya, Minggu (27 April 2025) usai Rapat Paripurna DPRD Kota Cilegon dalam rangka memperingati HUT Kota Cilegon Ke -26 tahun 2025.

Ia melihat Cilegon bukan hanya sebagai kota pabrik dan pelabuhan, melainkan juga sebagai ruang hidup yang memiliki sejarah, nilai-nilai, dan narasi kolektif yang harus terus dijaga. Dalam konteks itulah, pembangunan fisik dan digital harus diimbangi dengan pelestarian kearifan lokal.

Transformasi yang ia maksud bukan sekadar modernisasi teknologi atau peningkatan pelayanan publik, tetapi juga upaya menjadikan budaya lokal sebagai bagian integral dari wajah kota. Robinsar ingin Cilegon tumbuh sebagai kota industri yang tetap membumi—berakar pada nilai, tapi berorientasi masa depan.

Robinsar mengajak warga untuk menjaga optimisme, menjaga gotong royong, dan tetap setia pada nilai-nilai yang menyatukan. “Dengan niat baik dan usaha bersama, insya Allah Cilegon akan semakin berjaya.”

Peringatan ulang tahun ini tak hanya menjadi ajang selebrasi. Ia menjadi pengingat: bahwa di tengah ambisi dan pertumbuhan, kota tetap membutuhkan jiwa. Dan bagi Cilegon, jiwa itu ada dalam budayanya.

(Red*)