Gerak Cepat DLH Cilegon: Program “Kolase” Didukung Industri, 37 Juta Terkumpul dari Sampah Sekolah

CILEGON, WILIP.ID – Komitmen Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon dalam membangun budaya peduli lingkungan kian nyata. Lewat program “Kolase” — Kolaborasi Pengelolaan Sampah Ekonomi Sirkular di Sekolah — gerakan memilah dan mengelola sampah kini tak lagi sekadar teori di ruang kelas, melainkan sudah menghasilkan nilai ekonomi riil.

Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, menegaskan program ini merupakan tindak lanjut arahan Walikota Cilegon Robinsar untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah berbasis sekolah hingga 100 sekolah pada gelombang ketiga tahun 2026.

“Kolase ini sudah kami rintis sejak 2023. Tujuannya bukan hanya mengurangi sampah, tapi membentuk karakter anak-anak agar terbiasa mengelola sampah sejak dini,” ujar Sabri, Kamis (5/3/2026).

Pada tahap pertama (Batch 1), DLH mengedukasi empat sekolah: SMP Negeri 5 Cilegon, SMP Negeri 7 Cilegon, SMP Al-Hanif Cilegon, dan SDN Kedaleman 2.

Hasilnya tak main-main. Sebanyak 2.568 warga sekolah teredukasi, dengan total dana terkumpul dari penjualan sampah mencapai Rp37 juta hingga November 2025.

Memasuki tahap kedua (Batch 2), program diperluas ke 16 sekolah tambahan. Total kini 20 sekolah telah terlibat, termasuk satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kecamatan Cibeber yang juga mendapatkan edukasi pengelolaan sampah.

Pada gelombang kedua ini, sebanyak 35 ribu siswa terlibat aktif. Hingga November 2025, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp17 juta.

“Setiap tahun trennya meningkat, baik dari sisi volume sampah yang terkumpul maupun dana yang dihasilkan. Ini yang membuat sekolah-sekolah semakin tertarik,” tegas Sabri.

Menariknya, hasil penjualan sampah tidak berhenti di angka statistik. Dana tersebut dimanfaatkan langsung oleh sekolah sesuai kebutuhan masing-masing.

Ada yang menggunakannya untuk kegiatan ekstrakurikuler, perbaikan fasilitas kelas, hingga mendukung kegiatan studi wisata. Sistemnya pun jelas: sampah yang dipilah sekolah disetorkan ke bank-bank sampah di sekitar lingkungan sekolah.

Skema ini sekaligus memberdayakan bank sampah lokal yang sudah memiliki jejaring dengan penampung skala besar. Artinya, rantai ekonomi sirkular berjalan — dari siswa, ke bank sampah, hingga ke industri daur ulang.

“Ini bukan sekadar buang sampah. Ini pembelajaran ekonomi sirkular. Anak-anak tahu sampah itu punya nilai,” ujarnya.

Untuk Batch 3, DLH menargetkan 100 sekolah bergabung. Hingga Rabu lalu, 15 sekolah sudah resmi terdaftar.

Program ini juga mendapat dukungan dari dunia usaha, seperti PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan Bank Negara Indonesia, serta jejaring bank sampah yang terlibat aktif.

DLH berharap dukungan ini meluas.

“Kami berharap industri-industri lain di Cilegon ikut mendukung. Ini investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang sadar lingkungan,” tegas Sabri.

Lebih dari sekadar proyek lingkungan, Kolase digagas untuk mengubah tabiat. Menanamkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak bangku sekolah diyakini akan berdampak hingga ke rumah dan lingkungan sekitar.

Jika 100 sekolah benar-benar terlibat, maka ribuan siswa Cilegon akan tumbuh dengan pola pikir ekonomi sirkular. Sebuah langkah kecil dari ruang kelas yang bisa berdampak besar bagi wajah kota industri.

Dan di tengah persoalan klasik soal sampah perkotaan, Cilegon tampaknya sedang menyiapkan solusi dari hulu: pendidikan karakter lingkungan.

 

(Has/Red*)