Haji Muhlis Minta Aksi Buruh Bungasari Tidak Ganggu Pekerja Lain: “Mari Bertenggang Rasa”

CILEGON, WILIP.ID – Demonstrasi yang digelar sejumlah karyawan PT Bungasari Flour Mills di kawasan industri Kota Cilegon, Banten, mulai menimbulkan gesekan. Bukan hanya dengan pihak manajemen, tetapi juga dengan para pekerja subkontraktor yang terdampak secara langsung.

Salah satunya dialami PT Tri Daya. Direktur perusahaan tersebut, Haji Muhlis, mengaku perusahaannya mengalami kerugian sejak aksi protes berlangsung delapan hari lalu.

“Kami punya kontrak kerja yang sudah disepakati jauh-jauh hari sebelum ada aksi ini,” kata Muhlis kepada Wilip.id, Rabu, 11 Juni 2025. “Tapi sekarang pekerjaan kami dihentikan sepihak. Pekerja kami bahkan dihadang di pintu masuk.”

Aksi demonstrasi ini digelar oleh sejumlah karyawan Bungasari yang menolak rencana mutasi kerja ke cabang-cabang perusahaan di luar Cilegon, seperti Makassar dan Medan. Mereka menilai kebijakan mutasi tersebut tidak adil dan memberatkan.

Muhlis menegaskan bahwa pihaknya tak hendak mencampuri urusan internal Bungasari. Namun, ia berharap aksi yang berlangsung hingga 18 Juni mendatang tidak sampai merugikan pihak lain.

“Kami paham ini bagian dari perjuangan mereka. Tapi tolong juga pahami posisi kami. Ada banyak pihak yang ikut terdampak. Kami ini hanya subkontraktor,” ujarnya.

Karena akses utama ditutup massa aksi, sejumlah pekerja terpaksa mencari jalur alternatif. Ada yang memutar lewat jalan belakang. Ada pula yang menyebrang sungai menggunakan tangga darurat. Semua itu, kata Muhlis, menambah ongkos operasional yang sebetulnya tidak perlu.

“Satu sisi kami paham mereka memperjuangkan hak. Tapi mari saling tenggang rasa,” ucapnya.

Sikap serupa juga disampaikan Haji Hikmatullah, salah satu anggota DPRD Kota Cilegon yang juga memiliki usaha di kawasan industri tersebut. Ia meminta semua pihak menjaga ketertiban, terutama agar aktivitas ekonomi di kawasan itu tetap berjalan.

“Demo silakan saja, tapi jangan sampai menghambat pekerjaan pihak lain. Kita semua dikejar waktu,” kata Hikmatullah.

Haji Muhlis menutup pernyataannya dengan ajakan damai. “Tidak perlu ada yang disalahkan, tapi kita harus cari jalan tengah. Sudah cukup lama kami dirugikan. Sekarang waktunya kita sama-sama bertenggang rasa.”

(Has/Red)