CILEGON, WILIP.ID — Isu perpindahan Ersa Erdiansyah dari Partai Gelora ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) makin kencang berembus. Tidak tanggung-tanggung, kabar yang beredar menyebut Ersa sudah disiapkan untuk menduduki kursi Ketua DPC PPP Kota Cilegon.
Bisik-bisik politik itu mulai muncul sejak beberapa hari terakhir dan cepat menyebar di kalangan internal partai. Maklum, Ersa selama ini dikenal sebagai sosok aktif yang pernah menjabat sekretaris Partai Gelora Kota Cilegon—posisi strategis yang membuat gerak-geriknya selalu diperhatikan.
Saat dimintai konfirmasi, Sekretaris DPW Partai Gelora Banten, H. Hikmat, mengaku belum menerima informasi resmi apa pun.
“Iya kah demikian? Saya belum mengetahui tuh,” ujar Hikmat saat dihubungi, Minggu (30/11/2025).
Namun Hikmat menegaskan satu hal: jika isu itu benar, Ersa harus bersikap terbuka dan menyelesaikan proses organisasi secara terhormat.
“Tanyakan saja ke Ersa. Kalau memang benar, gentleman saja. Buat saja surat pengunduran diri dari Gelora,” tegasnya.
Hikmat juga menepis anggapan bahwa hengkangnya satu kader akan membuat Partai Gelora kehilangan tenaga. Ia memastikan stok kader berkompeten di Gelora Cilegon masih sangat banyak.
Ia menyebut sejumlah nama, mulai dari akademisi hingga profesional.
1. Dr. Muchamad Fahru Komarudin, SE., M.Ak., CPFM, CFAP, QIA – akademisi dan doktor bidang akuntansi.
2. Ustad Dayan Fitroini, MH – akademisi, lulusan pesantren Tebuireng yang menempuh pendidikan selama 12 tahun disana.
3. Fikri Hanif Maulana, S.M.BA – pengusaha, pernah menempuh pendidikan di Jerman, kini Ketua DPD Gelora Cilegon.
4. drh. Anggara Aldobrata – dokter hewan dan kader muda Gelora, dan sejumlah kader lain yang diklaim memiliki kapasitas mumpuni.
“Gelora itu bukan soal satu orang,” begitu kira-kira pesan yang ingin ditegaskan Hikmat.
Spekulasi pun masih menggantung. Apakah ini sekadar manuver politik jelang konsolidasi PPP? Atau benar Ersa siap meninggalkan Gelora dan memulai karier barunya?
Jawaban itu kini ada di tangan Ersa. Publik politik Cilegon masih menunggu—apakah ia akan tetap bertahan, atau melangkah pergi secara gentleman, seperti yang diminta oleh Gelora Banten.
(Has/Red*)















