JOGJA, WILIP.ID – Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY) kembali menggelar Hari Inspirasi yang dilaksanakan pada Jumat, 3 Maret 2024. Sebanyak 167 relawan pengajar dan 71 relawan dokumentator tersebar di 18 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di berbagai wilayah di Provinsi Yogyakarta.
Koordinator Umum Kelas Inspirasi Yogyakarta 10, Zidan Pamungkas menjelaskan Kelas Inspirasi Yogyakarta 10 mengusung tagline “Parade Gema Abyaksa”. Tujuannya ingin membawa semangat merangkul untuk berkolaborasi dengan semua pihak.
“KIY 10 mengusung tiga tema utama, yaitu kolaborasi, literasi, dan digitalisasi yang dituangkan dalam Padu Grahita Jelajah Loka Cita. Literasi merupakan keterampilan yang dinilai krusial.Oleh karena itu, pemenuhan enam literasi dasar seperti baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan harus diwujudkan,” kata Zidan.
Hari Inspirasi merupakan kunjungan mengajar oleh para relawan untuk mengenalkan berbagai profesi kepada para siswa di beberapa sekolah terpilih. Tahun ini, terdapat total 18 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah yang dikunjungi.
Persebaran dari barat ke timur meliputi 5 di Kabupaten Kulon Progo, 2 di Kabupaten Sleman, 1 di Kota Yogyakarta, 3 di Kabupaten Bantul, dan 7 di Kabupaten Gunung Kidul.
“Kali ini bidang pekerjaan relawan yang paling banyak adalah kesehatan, media, dan keuangan. Ada yang bekerja sebagai ahli forensik, juru dongeng, bankir, dan masih banyak lagi! Jenjang pendidikan terakhir para relawan juga beragam, mulai dari SMA, diploma, S1 sampai dengan S2. Menariknya, 74,6% relawan berasal dari luar Yogyakarta,” kata Zidan.

Salah seorang relawan pengajar, Made Getas Pudak Wangi merasakan kebahagiaan bisa menceritakan profesi wiraswasta bidang pertanian kepada adik-adik SD Unggulan Aisyiyah Pandak.
“Adik-adik maupun guru-guru sangat antusias mendengar cerita saya bertani hidroponik. Saya juga menceritakan bahwa sektor pertanian sangat luas dan memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan, mengingat kegiatan bertani berperan penting dalam penyediaan pangan dan ekonomi dunia,” kata relawan yang berasal dari Bali ini.
Ia juga memperkenalkan sekilas tentang mama dan penyakit tanaman yang mampu menarik minat adik-adik untuk turut berkecimpung dalam sektor pertanian pada riset.
“Saya berharap bisa menginspirasi generasi muda sejak dini untuk dapat berwirausaha dan berkontribusi dalam regenerasi petani-petani di Indonesia,” kata Pudak.

Prajana Paramita, relawan pengajar di sekolah yang sama turut membawakan materi profesi Arsitek Lanskap merasakan ada tantangan tersendiri karena profesi ini tidak umum.
“Saya cukup excited karena akhirnya menemukan cara untuk mengenalkan (bagaimana) menggambar dengan tanaman sekaligus memberi ruang untuk anak dekat dengan lingkungan alam, bermain bersama benda-benda alam (batu, ranting, daun) dan bekerja sama membuat karya secara kreatif.” Ungkap Prajana mita.
Baginya yang terpenting adalah anak-anak mengalami pengalaman belajar dan insight baru terkait impiannya yang akan diingat hingga dewasa nanti.
Tak hanya belajar pertanian dan pertamanan, di SD Unggulan Aisyiyah Pandak juga belajar tentang kesehatan, jurnalistik, Keuangan, hingga konstruksi bangunan.















