Menuju Kota Inklusif, Cilegon Resmikan Rumah Setara bagi Disabilitas

CILEGON, WILIP.ID — Pemerintah Kota Cilegon resmi meluncurkan Rumah Setara, sebuah unit layanan disabilitas yang didedikasikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Peresmian yang berlangsung Rabu (5/6/2025) ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Prabowo.

Langkah ini disebut sebagai komitmen nyata pemerintah daerah dalam membangun Cilegon sebagai kota inklusif—di mana setiap warga, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan hak dan pelayanan yang setara.

“Alhamdulillah, hari ini kita meresmikan Rumah Setara. Ini bukan hanya bentuk kewajiban pemerintah, tapi juga kebutuhan nyata bagi masyarakat. Harapannya, ini jadi tonggak awal menuju Cilegon yang betul-betul inklusif,” ujar Fajar di sela-sela sambutannya.

Tantangan di Tengah Langkah Awal

Meski disambut dengan antusias, Fajar tak menampik bahwa unit layanan yang baru diresmikan ini masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama soal ruang fisik.

“Jangan sampai nanti malah parkirnya lebih luas daripada ruang untuk layanan disabilitasnya,” ucapnya, setengah berseloroh namun penuh sindiran.

Lebih dari sekadar bangunan yang nyaman dan berpendingin udara, Fajar menekankan bahwa pelayanan adalah inti dari keberpihakan. Ia menyebut, penyediaan kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman harus layak dan manusiawi, terutama bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Namun tantangan tak berhenti di situ. Penanganan anak disabilitas, kata Fajar, memerlukan kompetensi khusus dan kesabaran ekstra.

“Pendamping tidak bisa direkrut sembarangan. Anak dengan autisme misalnya, saat mereka meltdown, tidak bisa dipaksa bicara. Kita harus sabar, tunggu mereka tenang baru bisa diajak komunikasi,” jelasnya.

Sekolah Inklusif, Masih Jauh dari Ideal

Dalam kesempatan itu, Fajar juga menyinggung soal pendidikan inklusif yang menurutnya belum menyentuh akar persoalan. Ia menegaskan bahwa setiap anak dengan disabilitas membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda, namun tak semua sekolah siap memfasilitasi itu.

“Undang-undangnya memang mewajibkan sekolah menerima anak disabilitas. Tapi faktanya, mereka tetap membutuhkan alat peraga, fasilitas belajar yang sesuai, dan tenaga pengajar yang memahami kondisi mereka,” ujarnya.

Fajar pun mengaku telah menyampaikan keluhan ini langsung kepada Kementerian Pendidikan. Ia menyebut telah bertemu dengan Dirjen PAUD dan Kemendikdasmen, Eko Prasetyo, guna mendorong pembentukan satuan pendidikan percontohan di Cilegon.

“Kami ingin ada PAUD atau TK yang betul-betul inklusif dan ideal—dengan guru yang mumpuni dan fasilitas seperti perosotan, taman bermain, dan ruang belajar khusus,” tuturnya.

Harapan Baru di Rumah Setara

Peresmian Rumah Setara diharapkan menjadi awal dari sistem layanan publik yang lebih berpihak dan manusiawi. Namun, pekerjaan rumah masih panjang. Inklusivitas bukan sekadar jargon pembangunan, tapi soal kesediaan mendengar, memahami, dan memberi ruang setara bagi semua golongan—termasuk mereka yang selama ini kerap terpinggirkan dalam kebijakan.

“Ini bukan akhir, ini baru permulaan,” tegas Fajar.

(Elisa/Red)