CILEGON, WILIP.ID – Cilegon, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat industri, kini semakin mencuri perhatian sebagai Kota Santri yang memegang erat nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan.
Di tengah derasnya arus investasi nasional dan internasional, Cilegon berkomitmen untuk menjaga warisan budaya dan peradaban besar yang telah ada sejak lama. Demikian diungkapkan Muhammad Ibrohim Aswadi, Tokoh Masyarakat Kota Cilegon, dalam bincang-bincang dengan jurnalis Wilip.id pada Selasa (28 Januari 2025).
Namun, kata Kang Boby, sapaan akrab Muhammad Ibrohim Aswadi, tantangan yang dihadapi Cilegon tak kunjung berhenti. Pemandangan yang kurang mengenakkan, seperti masjid yang beberapa waktu ini ramai diperbincangkan karna telat bayar listrik akhirnya arus listrik di putus sama PLN sehingga redup, kesulitan hidup rakyat miskin, serta pengangguran yang semakin meluas, menjadi gambaran nyata ketimpangan yang harus segera diatasi. “Aje sampe terulang,” ungkap Kang Boby dengan nada prihatin. Ia menegaskan, bahwa Cilegon harus segera memperbaiki kondisi ini demi kesejahteraan bersama.
Lebih lanjut, Kang Boby menjelaskan bahwa menghadapi situasi ini, pemerintah kota dan sektor industri diharapkan dapat bergotong royong dalam menyelesaikan masalah yang ada.
“Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), sektor industri memiliki peran besar dalam mendukung kegiatan sosial dan keumatan, terutama untuk memajukan ekonomi rakyat Cilegon,” tuturnya.
“Kita perlu kesadaran bersama bahwa kita sedang membangun Kota Cilegon, bukan sekadar membangun di Kota Cilegon,” ujar Kang Boby, yang juga merupakan figur publik yang mendukung gerakan ini.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan industri menjadi kunci penting dalam mewujudkan Cilegon yang lebih sejahtera dan beradab, sekaligus melestarikan nilai-nilai keagamaan yang menjadi identitasnya sebagai Kota Santri.
Dengan langkah-langkah konkret dan komitmen bersama, Cilegon diharapkan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan industri dan pelestarian nilai-nilai budaya dan sosial yang ada.















