Sebuah Catatan dari Kang Nasir di Platform Blog Kompasiana, 2 Mei 2018.
Ada malam yang menyalakan air mancur, dan ada satu kaki yang kehilangan sepatunya di aspal. Sementara itu, rombongan harus berjalan terus, sebab karnaval tak pernah menunggu yang tersandung.
Bagi Kang Nasir, malam itu 27 April 2018 adalah sebuah catatan luka. Bukan tentang air mancur yang menari, bukan pula sorak-sorai ribuan warga. Melainkan sebuah sepatu yang mengingatkan dia kepada manusia yang menanam keramaian itu. Manusia yang menggali tanah dengan mimpi, yang menabur alun-alun dari sunyi. Dan Ia sendiri yang tak hadir untuk mendengar buah yang tak sempat ia petik, riang yang tak sempat ia rengkuh.
Manusia yang menabur cahaya untuk kotanya itu mungkin sedang duduk membaca gelap di dalam dinding sempit. Jauh lebih sempit dari tanah lapang tiga hektare, lebih sunyi dari sorak ribuan warga.
Begitulah anak Adam. Tangan kanan menanam taman, tangan kiri menabur luka. Keduanya tumbuh dari akar yang sama. Tak ada yang seputih embun, tak ada yang sehitam arang. Yang ada hanya manusia semula berjalan gagah mengenakan sepatunya, sebelum tersandung di jalan yang ia bangun sendiri.
Terbersit tanya dalam hati Kang Nasir kepada sepatu yang tergeletak: “bukankah sebelum kau ditinggal, kau pernah menempuh jarak yang jauh, kau pernah menari di bawah cahaya, kau pernah menjadi bagian dari sesuatu yang indah?”
Begitu jugalah seharusnya
semesta mencatat manusia. Bukan dari langkah terakhirnya yang jatuh,
tapi dari jalan panjang yang telah ia tempuh sebelum kaki itu berhenti.
Alun-alun masih berdiri. Air mancurnya masih memercik senja, anak-anak masih berkejaran menuju basah, dan nama sang penggagas melekat pada setiap jengkal tanahnya. Dikenang dengan hormat, dikenang pula dengan getir, sebagaimana dua sisi mata uang yang tak pernah bisa dipisahkan.
Ia kini telah kembali. Menghirup udara bebas yang dulu ia rancang untuk orang lain. Dan orang kampung yang duduk nglekor di aspal itu hanya bisa berbisik pada malam: “Selamat pulang, kepada yang menabur riang namun pulang sendiri. Selamat pulang. Kepada sepatu yang ditinggal, yang ternyata sejak awal, tak pernah benar-benar kita lupakan.”















