CILEGON, WILIP.ID – Koordinator Gerakan Bersama Anti Kemaksiatan (GEBRAK) Banten, KH Hafidin, menyatakan dukungannya terhadap aksi menolak proyek pembangunan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 yang digelar masyarakat dan ulama Banten di depan Kantor Gubernur Banten, Senin 23 Desember 2024. Beliau menegaskan bahwa pembangunan PIK 2 berpotensi merusak lingkungan, nilai-nilai agama, dan tatanan sosial masyarakat Banten.
KH Hafidin menyerukan dengan tegas kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersatu menolak PIK 2 demi menjaga warisan alam dan budaya yang ada. “Proyek ini bukan hanya berdampak buruk pada lingkungan, tetapi juga mengancam moralitas generasi muda kita. Sebagai umat, kita wajib melindungi tanah yang telah dianugerahkan Allah kepada kita,” tegasnya.
Proyek PIK 2 yang merambah pesisir Kabupaten Tangerang hingga Kabupaten Serang akan melakukan reklamasi besar-besaran yang telah menimbulkan berbagai kontroversi sejak awal. Aktivis lingkungan menyoroti dampak ekologis, termasuk hilangnya ekosistem pesisir, kerusakan terumbu karang, hingga risiko banjir yang semakin besar di wilayah sekitar.
Para ulama Banten, termasuk KH Hafidin, menekankan pentingnya menjaga harmoni antara pembangunan dan kelestarian alam. “Pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan dan masyarakat lokal. Jika itu terjadi, maka kita tidak sedang membangun, tetapi menghancurkan masa depan,” tambah KH Hafidin.
Menurut data yang dihimpun, KH. Hafidin menyebut proyek ini juga memicu kekhawatiran atas keterlibatan korporasi besar yang dianggap mengabaikan kebutuhan dan hak-hak masyarakat lokal. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa ulama Banten tolak PIK 2 secara tegas.
“Kita tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik, tetapi soal pembangunan moral dan sosial. Proyek ini bertentangan dengan nilai-nilai yang kami junjung tinggi di Banten,” ujar KH Hafidin.
Penolakan terhadap PIK 2 tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi telah menarik perhatian nasional. KH Hafidin berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya melindungi lingkungan dan nilai-nilai agama dari dampak negatif proyek tersebut.
“Jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan kehilangan segalanya: alam, budaya, bahkan moral kita. Inilah saatnya bersatu dan melawan demi masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Seruan GEBRAK Banten menjadi pengingat bahwa pembangunan harus sejalan dengan keberlanjutan lingkungan dan sosial. Penolakan PIK 2 yang digaungkan ulama dan masyarakat Banten, menunjukkan tekad kuat untuk menjaga warisan alam dan moralitas yang diwariskan kepada generasi mendatang.















