CILEGON, WILIP.ID – Di balik kesibukannya sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Cilegon, Eli Amaliyah punya cara unik untuk melepas penat: memasak.
“Ketika memasak di dapur, rasanya seperti ratu penguasa,” ujarnya sambil tersenyum saat ditemui jurnalis wilip.id di kantornya, Senin (2/6/2025). Baginya, memasak bukan sekadar rutinitas harian, melainkan ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menjaga kesehatan mental.
Kecintaannya pada dunia masak-memasak sudah tumbuh sejak masa kuliah di tahun 1992. Tinggal di kos bersama teman-teman, Eli kerap bereksperimen dengan bahan-bahan sederhana demi menghemat pengeluaran. Dari situlah hobinya berkembang.
“Sambal goreng kulit tangkil cabe ijo itu favorit saya. Rasanya sederhana, tapi kaya,” kata Eli sambil tertawa kecil, mengenang masa-masa awal belajar memasak.
Kini, memasak telah menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Ia bahkan punya resep andalan: ayam Gerem Asem, hasil modifikasi dari resep warisan sang ibu. Masakan itu sering jadi permintaan khusus dari suami dan anak-anak di rumah.
Untuk menentukan menu harian, Eli mengaku banyak menyesuaikan dengan selera keluarga. “Biasanya tergantung request suami dan anak-anak,” katanya.
Meski aktif turun langsung saat pemadaman kebakaran atau inspeksi sistem keamanan di kawasan industri, Eli tetap berusaha menjaga pola makan. Tantangannya, tentu saja soal waktu. “Kadang susah menyempatkan diri untuk masak sendiri, apalagi kalau jadwal padat. Tapi saya tetap berusaha menyajikan yang sehat,” tuturnya.
Sumber inspirasinya pun beragam—dari media sosial, buku resep, hingga pengalaman kuliner pribadi. Namun, yang paling sering jadi “korban” cicipan masakannya adalah, Teh Ojah. “Kalau masak sesuatu yang baru, Teh Ojah pasti jadi orang pertama yang saya suruh icip,” katanya sambil tertawa.
Bagi Eli, dapur bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah ruang terapi, tempat menyelami rasa, serta simbol keseimbangan antara tugas profesional dan kehidupan pribadi.
“Memasak itu menarik karena kita bisa menciptakan sesuatu, mengeksplorasi rasa, sekaligus jadi cara untuk menjaga kesehatan mental,” pungkasnya.
(Elisa/Red)















