SERANG, WILIP.ID — Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kabupaten Serang yang akan digelar pada Rabu, 8 Oktober 2025, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Serang, Azwar Anas, melontarkan catatan tajam. Ia menyebut, di balik geliat pembangunan yang terus berjalan, masih banyak pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan — salah satunya pemangunan pusat kota dan pusat pemerintahan kabupaten (Puspemkab).
“Pembangunan di Kabupaten Serang ini luar biasa, tapi harus lebih ditingkatkan. Sampai hari ini kalau kita ditanya mana pusat kota Serang dan Puspemkab, jawabannya belum ada,” ujar Anas, Selasa (7/10/2025).
Pusat Kota dan Puspemkab yang Tak Kunjung Ada
Serang, menurut Anas, seperti rumah besar tanpa ruang tamu. Ia menilai keberadaan pusat kota dan Puspemkab bukan sekadar simbol, tapi juga poros pelayanan publik dan denyut ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kalau ada pusat kota dan Puspemkab, akan tumbuh ekonomi baru di sekitarnya. Ini bukan sekadar infrastruktur, tapi identitas daerah,” kata dia.
Pernyataan itu muncul di tengah sorotan publik terhadap lambannya realisasi pusat pemerintahan Kabupaten Serang, yang rencananya akan dibangun sejak beberapa tahun lalu namun hingga kini belum juga rampung.
Infrastruktur Desa: Capaian Nyata, tapi Belum Merata
Anas mengakui, di sisi lain, pembangunan jalan desa menunjukkan progres signifikan. Sekitar 70 persen jalan desa kini telah dicor dan menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.
“Ini capaian nyata dari kerja keras pemerintah daerah. Tapi jangan berhenti di sini. Jalan-jalan kampung dan konektivitas antarwilayah masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Pengangguran dan Pungli Masih Menghantui
Namun di balik kemajuan fisik, bayang-bayang pengangguran masih gelap.
“Serang termasuk daerah dengan suplai pengangguran tertinggi di Banten. Ini ironis, kita lumbung padi tapi warganya banyak yang tidak punya pekerjaan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengungkap keluhan masyarakat soal praktik pungutan liar dan percaloan dalam rekrutmen kerja. “Banyak laporan, masuk kerja harus bayar. Ini harus diberantas. Saya dengar sudah ada Satgas jual-beli lowongan kerja, tapi efektivitasnya perlu diuji,” katanya.
Sampah dan Limbah: PR yang Tak Pernah Usai
Masalah klasik yang belum tuntas, kata Anas, adalah soal sampah dan limbah industri. Hingga kini, Kabupaten Serang belum memiliki tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) permanen.
“Ini darurat. Tahun ini harus bisa direalisasikan. Kita tidak bisa bicara kabupaten layak huni kalau urusan sampah saja belum tuntas,” ujarnya.
Ia juga menyinggung soal limbah B3 dari kawasan industri yang kerap mencemari lingkungan. “Pemerintah harus tegas awasi industri agar tak membuang limbah sembarangan. Jangan sampai masyarakat yang jadi korban,” tambahnya.
Menata Fokus Pembangunan
Menurut Anas, pembangunan di Serang kini ibarat menyebar ke segala arah tanpa fokus sektor.
“Kita punya potensi lengkap: pertanian, perikanan, industri, pariwisata. Tapi arah pembangunannya masih kabur. Pemerintah harus menentukan fokus kawasan. Misalnya, Cikande dan Kragilan untuk industri, Anyer untuk pariwisata, Pontang untuk pertanian,” paparnya.
Ia juga mendorong agar Pemkab memperkuat iklim investasi tanpa mengorbankan kepastian hukum. “Investor harus taat aturan, tapi jangan dipersulit perizinannya. Kalau ada yang dihambat, laporkan ke kami,” tegasnya.
“Serang Bahagia” Jangan Jadi Slogan
Menutup pernyataannya, Anas menyinggung visi besar daerah yang selama ini digaungkan: Serang Bahagia.
“Bahagia itu bukan di spanduk atau baliho. Bahagia itu ketika rakyat mudah cari kerja, urus KTP cepat, akses layanan publik gampang. Kalau itu terwujud, baru layak disebut Serang Bahagia,” ujarnya.
Menjelang usia ke-499, Serang memang berdiri di simpang jalan: antara laju pembangunan dan beban ketimpangan. Suara seperti Azwar Anas menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal beton dan aspal, tetapi tentang manusia yang hidup di atasnya.
(Elisa/Red*)















