Dindikbud Cilegon: Hari Pertama Masuk Sekolah, Siswa di 4 Kecamatan Terdampak Banjir Boleh Pakai Baju Bebas

CILEGON, WILIP.ID — Pemerintah Kota Cilegon mengambil langkah adaptif dan berorientasi pada kemanusiaan untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan di tengah dampak banjir. Kebijakan kelonggaran berpakaian bagi siswa diberlakukan di empat kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Ciwandan, Citangkil, Jombang, dan Cibeber.

Melalui surat edaran yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon, sekolah-sekolah di wilayah tersebut diminta tidak mewajibkan penggunaan seragam bagi siswa. Kebijakan ini mulai berlaku sejak hari pertama masuk sekolah pascalibur, dengan tujuan utama memastikan anak-anak tetap kembali belajar meski kondisi belum sepenuhnya pulih.

Kepala Dindikbud Kota Cilegon, Heni Anita Susila, mengatakan siswa diperbolehkan mengenakan pakaian bebas yang rapi dan sopan selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Anak-anak tetap kami minta masuk sekolah, tetapi tidak diwajibkan mengenakan seragam. Mereka boleh menggunakan pakaian bebas yang rapi,” ujar Heni, Minggu (4/1/2026).

Menurut Heni, banjir yang melanda Ciwandan, Citangkil, Jombang, dan Cibeber tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga berdampak langsung pada perlengkapan sekolah siswa. Banyak seragam yang rusak, kotor, atau belum bisa digunakan kembali karena masih dalam proses pembersihan.

“Di lapangan kami melihat sendiri seragam anak-anak terendam banjir. Jika tetap dipaksakan berseragam, tentu akan memberatkan orang tua yang saat ini masih fokus pada pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Meski memberikan kelonggaran, Dindikbud menegaskan bahwa disiplin dan ketertiban sekolah tetap dijaga. Sekolah diminta menciptakan suasana belajar yang kondusif, sementara kebijakan berpakaian bebas ini bersifat sementara dan situasional.

Langkah Pemkot Cilegon ini mencerminkan pendekatan responsif dalam situasi darurat. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan administratif, tetapi sebagai proses berkelanjutan yang harus tetap berjalan di tengah krisis. Sekolah diharapkan menjadi ruang pemulihan psikologis bagi anak-anak yang terdampak bencana.

“Yang terpenting anak-anak kembali ke sekolah dengan nyaman dan semangat. Soal seragam bisa menyusul,” kata Heni.

Di tengah ketidakpastian akibat banjir, kebijakan ini menunjukkan keberpihakan pemerintah pada kondisi riil masyarakat. Dalam keadaan darurat, Pemkot Cilegon memilih mendahulukan esensi pendidikan dan kemanusiaan dibandingkan formalitas semata.

 

(Has/Red)