CILEGON, WILIP.ID — Dua tangki air bersih dikirim keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Cilegon ke Lingkungan Gunung Batur 1 dan Gunung Batur 2. Bantuan itu berasal dari iuran dan infak sedekah siswa, guru, serta tenaga kependidikan.
Wakil Kepala MAN 2 Kota Cilegon Bidang Kesiswaan, H. Ali Yakub, M.Pd.I, mengatakan penyaluran air merupakan bentuk kepedulian madrasah terhadap warga yang terdampak kekeringan. Bantuan itu, kata dia, sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi siswa.
“Sebagai makhluk sosial, kami memiliki rasa kepedulian terhadap saudara-saudara yang saat ini tertimpa musibah kekeringan,” kata Ali.
Menurut Ali, keterlibatan siswa dalam pengumpulan infak dan sedekah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penggalangan bantuan. Mereka juga belajar memahami persoalan masyarakat secara langsung.
“Ini memberikan pembelajaran kepada anak-anak agar memiliki kepedulian kepada sesama. Kami ingin membiasakan mereka untuk membantu,” ujarnya.
MAN 2 Cilegon berencana melanjutkan penyaluran bantuan apabila dukungan dari keluarga besar madrasah kembali terkumpul. Sejumlah wilayah lain yang mengalami kekeringan, termasuk Tembulun, menjadi sasaran berikutnya.
Bagi warga Gunung Batur 2, bantuan air datang ketika kebutuhan terhadap air bersih masih tinggi. Ketua RW 03 Lingkungan Gunung Batur 2, Mustofa, mengatakan pasokan air dari berbagai pihak selama ini membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah, warga saya hari ini merasa terbantu,” kata Mustofa.
Ia menyebut bantuan yang diterima warga dalam sehari bervariasi, sekitar empat hingga delapan ton. Menurut dia, kebutuhan ideal di wilayahnya bisa mencapai sekitar 10 ton per hari.
Satu RW, kata Mustofa, mencakup dua RT. Karena itu, ketersediaan air menjadi persoalan yang cukup besar ketika kekeringan berlangsung.
Bantuan dari sejumlah pihak belum selalu datang setiap hari. Mustofa mengatakan sempat ada jeda distribusi pada Sabtu dan Ahad. Namun setelah itu, bantuan kembali berdatangan dari sejumlah donatur.
Ia berharap dukungan tersebut terus berlangsung sampai hujan turun dan kondisi kembali normal.
“Harapannya mudah-mudahan hujan turun. Kalau sudah hujan dan kebutuhan air tercukupi, tentu bantuan air tidak diperlukan lagi,” ujarnya.
Penyaluran dua tangki air oleh MAN 2 Cilegon memperlihatkan sisi lain dari persoalan kekeringan. Bagi warga, air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda. Bagi madrasah, bantuan tersebut menjadi ruang belajar di luar kelas.
Infak yang dikumpulkan siswa berubah menjadi air yang dapat digunakan warga. Dari sana, pendidikan kepedulian sosial tidak lagi berhenti sebagai pesan moral, melainkan hadir dalam bentuk yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di tengah kekeringan yang belum sepenuhnya berakhir, gotong royong menjadi salah satu cara warga bertahan. Dan bagi para siswa, pengalaman itu dapat menjadi pelajaran sederhana tentang arti berbagi.
(Has/Red)*















